Politik Pemerintahan

Imbas Bulog Gagal Serap, Golkar Jatim Instruksikan Beli Beras Petani

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, M Sarmuji

Surabaya (beritajatim.com) – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, M Sarmuji menginstruksikan seluruh pengurus dan anggota Fraksi Partai Golkar di Jatim membeli beras langsung dari petani. Hal ini imbas dari terus menurunnya harga beras dan kegagalan Bulog menyerap gabah dari petani.

Golkar Jatim menginstruksikan seluruh jajaran pengurus Golkar dari Provinsi hingga tingkat desa serta seluruh jajaran Fraksi Partai Golkar, Ormas pendiri diantaranya MKGR, Kosgoro dan SOKSI serta Ormas lainya yang didirikan seperti AMPG, Pengajian Al Hidayah, Laskar Ulama, AMPI, KPPG, MDI untuk membeli beras langsung dari petani.

“Gerakan beli beras langsung dari petani ini untuk meningkatkan sisi permintaan beras di pasaran, sehingga mampu mengangkat harga beras di tingkat petani,” kata M Sarmuji kepada wartawan di Surabaya, JumatĀ  (26/3/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Sarmuji mengatakan jika semua pengurus Golkar dan F-PG membeli beras langsung dari petani dengan harga pasar untuk kebutuhan satu hingga dua bulan ke depan, maka harga di tingkat petani akan naik karena besarnya permintaan serta pendeknya arus distribusi beras.

Lebih lanjut anggota DPR RI Komisi XI ini menambahkan, apabila gerakan ini diikuti oleh masyarakat secara luas, maka penyerapan beras akan semakin cepat saat panen raya nanti.

“Kita tentu berharap peran Bulog sebagai penyangga utama harga beras semakin kuat, tapi sepertinya Bulog selalu keteteran di saat panen raya. Daripada kita mengharapkan Bulog, tapi Bulognya lamban, mending kita bertindak sesuai kapasitas masing-masing dengan membeli beras dari petani untuk kebutuhan minimal sebulan atau dua bulan ke depan,” tuturnya.

Pihaknya juga berharap gerakan beli beras ke petani ini bisa menjadi gerakan gotong royong antarwarga. Beras yang disimpan oleh masyarakat untuk kebutuhan konsumsi sebulan hingga dua bulan ke depan dijamin tidak akan rusak.

“Saya yakin beras yang disimpan masyarakat untuk kebutuhan sebulan atau maksimal dua bulan kualitasnya tetap terjaga dengan baik, daripada disimpan Bulog tapi tidak dikeluarkan bertahun-tahun yang setelah itu tidak bisa dimakan,” pungkas Sarmuji. (tok/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar