Politik Pemerintahan

Fraksi Pandekar Ingatkan Tahun Politik dan Potensi Bencana di Jember

Agusta Jaka Purwana (kiri) dan Achmad Dhafir Syah

Jember (beritajatim.com) – Fraksi Pandekar DPRD Jember, Jawa Timur, yang beranggotakan legislator Partai Amanat Nasional, Partai Demokrat, dan Partai Golkar mengingatkan Bupati Hendy Siswanto tentang potensi persoalan pada tahun politik dan potensi bencana alam.

“Di tahun politik ini, dengan semakin dekatnya pelaksanaan pemilu pada 14 Februari 2024, maka kami mengingatkan dan meminta kepada jajaran Forkopimda dan seluruh stakeholder penyelenggaraan pemilu untuk membangun koordinasi dan komunikasi,” kata Agusta Jaka Purwana, juru bicara Fraksi Pandekar, dalam sidang paripurna pembahasan Perubahan APBD 2023, di gedung DPRD Jember, Jumat (29/9/2023) malam.

Koordinasi dan komunikasi ini, menurut Agusta, bertujuan untuk menjamin terselenggaranya pemilu, khususnya di Kabupaten Jember, kondusif dan damai dengan asas jujur, luber, dan adil serta terbebas dari manipulasi dan kecurangan.

“Selain itu kami memperingatkan kepada bupati dan jajaran birokrasi, khususnya aparatur sipil negara dan aparat TNI dan Polri untuk menjaga netralitas politik dalam pelaksanaan pemilu nanti agar tidak menimbulkan kegaduhan dan instabilitas politik,” kata Agusta.

Selain memicu kegaduhan, Agusta menegaskan, ketidaknetralan aparat pemerintah dan keamanan akan berujung pada pelanggaran politik yang dapat disanksi dengan ancaman pidana.

Pandekar mengapresiasi pelaksanaan pemilihan kepala desa serentak di Desa Sarimulyo, Desa Padomasan di Kecamatan Jombang, Desa Tanggul Kulon di Kecamatan Tanggul, Desa Tisno Gambar di Kecamatan Bangsalsari, dan Desa Pace di Kecamatan Silo yang berjalan lancar dan kondusif.

Peringatan kedua terkait fenomena El Nino. “El Nino telah membawa kemunduran perkiraan turunnya hujan dan dampaknya terjadi perubahan iklim kemarau yang panjang, cuaca panas terik yang menyebabkan ancaman kekeringan dan kebakaran lahan,” kata Agusta.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika telah memperkirakan, musim hujan datang secara tidak bersamaan di wilayah Indonesia. “ini perlu disikapi dengan kewaspadaan dan kesiapsiagaan daerah, untuk tanggap terhadap potensi kebencanaan yang mungkin terjadi. Salah satunya dengan pelaksanaan apel kesiapsiagaan kebencanaan,” kata Agusta. [wir]


Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks



Apa Reaksi Anda?

Komentar