Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

BPBD Jember Minta Maaf

BPBD Jember Minta Maaf

Jember (beritajatim.com) – Lonjakan kasus Covid-19 sejak Juni 2021 hingga saat ini membuat Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember, Jawa Timur kewalahan.

“Bisa kita katakan satu bulan ini, angkanya jika dibandingkan satu tahun 2020, akumulasinya sama. Jadi kita bisa bayangkan, bekerja secara akumulasi dalam satuan waktu satu bulan yang kurang lebih angkanya sama dengan satu tahun,” kata Kepala BPBD Jember Mohammad Djamil.

Djamil menyebut ini sesuatu yang baru bagi BPBD. “Kami perlu menyampaikan permohonan maaf kami apabila ada kesalahan-kesalahan yang segera kami perbaiki,” katanya.

Salah satu kesalahan yang dilakukan dipaparkan Mashuri Harianto, legislator DPRD Jember. “Lubang kubur kakak saya yang mau dimakamkan (secara protokol Covid) ternyata sudah diisi jenazah lain yang dikubur tadi malam, dan patokan yang dipasang adalah patokan (batu nisan) bernama kakak saya. Ternyata isinya jenazah perempuan,” katanya.

Djamil mengatakan, terjadi kesalahan informasi dari rumah sakit tempat pemulasaraan jenazah Harianto, kakak Mashuri. Saat itu petugas rumah sakit kewalahan karena dalam sehari harus menangani 14 jenazah. Keterlibatan banyak pihak, termasuk keluarga, agar pemulasaraan berjalan lebih manusiawi memakan waktu lama.

“Rilis waktu meninggalnya dengan waktu rilis kesiapan pemakaman kadang cukup panjang. Kami selalu mencoba mencari upaya meminimalkan waktu pelaksanaan (pemakaman). Faktor koordinasi dengan hampir semua pihak baik pemangku wilayah, relawan, keluarga, jadi faktor penentuam waktu yang seringkali agak molor,” kata Djamil.

“Misalkan ada yang meninggal jam 9 malam. kami sebenarnya siap memakamkan jam 1-2 dini hari, karena tim pemakaman kami pada prinsipnya bekerja 24 jam. Karena pada waktu-waktu tertentu ada pemakaman sampai jam 5-6 pagi, kami berikan waktu mereka beristirahat 2 jam,” kata Djamil.

Istirahat ini dilakukan pada jam 6-9 pagi. Inilah yang kemudian menyebabkan terjadi penumpukan permintaan, karena rata-rata keluarga minta pemakaman dilakukan pada pagi hari. “Walau kami sudah mengatur sedemikian rupa, tapi memang waktu-waktu penumpukan itu tidak terelakkan,” kata Djamil. [wir/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati

Unik dan Lucu, Lomba Sugar Glider di Surabaya

Aryo Seno Bicara Organisasi Sayap PDI Perjuangan