Setahun silam, saya tertarik dengan buku kecil di tangan Zulkifli Hasan. Buku itu dibawanya saat berkunjung ke Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember.
Zulhas, demikian sapaan akrab Zulkfili, menyodorkan buku kecil berwarna sampul biru itu kepada Bupati Hendy Siswanto. Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini mengatakan, buku itu adalah rangkuman pemikiran politiknya.
Hendy tersenyum dan membaca judulnya. Politik Jalan Tengah: Gagasan Islam Tengah untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Dalam bagian pengantar, Zulkifli mengaku menulis buku ini untuk mendudukkan masalah dan mengurai narasi yang mempertentangkan Islam dengan negara. “Sejatinya Islam tidak pernah bertentangan dengan ide ke-Indonesia-an dan begitu pula sebaliknya, Ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an selalu berada dalam satu tarikan napas, sebagaimana dulu dirumuskan oleg para pendiri bangsa ini yang banyak berasal dari kalangan ulama,” tulisnya.
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/pan-sambangi-kediaman-prabowo-zulhas-koalisi-kebangsaan-perlu-kebersamaan/
Zulkifli menyodorkan tesis Islam Tengah. Ini sebuah manifesto, cara pandang dan tafsir, yang diterapkannya secara politik dan kebangsaan di Partai Amanat Nasional. Kata kuncinya: kebangsaan, religiusitas, nasionalisme, dan cita-cita ke-Indonesia-an.
“Islam Tengah adalah perwujudan Islam yang mengedepankan moderasi yang dalam bahasa Arab dikenal dengan kata wasath atau wasathiyah, yang memiliki padanan makna dengan kata tawassuth (tengah-tenga), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang).”
Menurut Zulkfli, Islam Tengah bukan konsep baru. Spirit Islam Tengah disebutnya ‘sudah lama hidup di Indonesia, sejak dilahirkan oleh para pendiri bangsa, terutama para tokoh Islam yang melihat Indonesia secara utuh dan berpegang pada ‘pilihan terbaik’ atau wasathiyyah tadi’.
“Saya kira, spirit Islam Tengah inilah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang damai, memiliki stabilitas politik yang baik dan kompatibel pada ide-ide kemajuan,” tulisnya. ‘Islam tengah tidak hanya membawa misi ketuhanan, tapi juga misi kemanusiaan’.
Zulkifli meyakini Indonesia butuh Islam Tengah. “Islam yang disebarkan dan diajarkan para wali dan ulama Nusantara melalui berbagai pendekatan, termasuk pendekatan tradisi, telah membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang luhur dan beradab. Sumbangsih Islam terhadap perkembangan dan kemajuan budaya Nusantara bisa kita lihat dalan sastra, seni dan budaya, bela diri, hingga tata kelola pemerintahan,” tulisnya di halaman 28-29.
Dengan latar belakang sejarah ini, Islam Tengah menolak upaya membenturkan Islam dengan negara sekaligus menyebut konsep khilafah internasional sebagai pikiran yang usang dan tidak menghargai sejarah panjang pendirian bangsa ini. “Bangunan konsep bernegara kita sudah final,” tegas Zulkifli.
Posisi Islam Tengah sendiri adalah sebagai jalan politik bangsa. Dengan Islam Tengah, Zulkifli mengajak bangsa Indonesia untuk ‘meneguhkan kembali ideologi berbangsa dan bernegara, termasuk menyelaraskan ulang cara berislam kita saat ini, di tengah pendulum ideologi dunia’. Kedua, memikirkan format terbaik yang bisa dipakai untuk menyelenggarakan politik domestik, terutama dalam hal politik elektoral.
Zulkifli menyerukan agar aktor-aktor politik kebangsaan Islam berpegang teguh pada nilai-nilai Islam Tengah dan menghindarkan diri dari godaan-godaan ideologi transnasional Islam yang menyodorkan konsep khilafah. “Khilafah kita justru adalah Pancasila itu, karena Indonesia adalah darul ‘ahdi wasy-syahadah.”
Islam Tengah menyodorkan tafsir membaca Pancasila. Pancasila yang islami, yang menegaskan bahwa nilai-nilai Islam menginspirasi bagaimana landasan dan tatanan kehidupan bangsa ini diformulasikan. Zulkifli ingin, ‘pemahaman tentang Pancasila dengan tafsirnya yang berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang rahamatan lil alamin inilah yang harus kita jaga dan wariskan kepada generasi berikutnya’.
Zulkifli mengecam narasi-narasi tak mengenakkan telinga seperti kadrun versus cebong, buzzer vs kadrun. Narasi-narasi itu justru mempertebal gesekan antara agama dengan negara. “Jangan lagi ada sentimen seolah-olah umat Islam bertentangan dengan pemerintah,” tulisnya di halaman 64.
https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/zulhas-ungkap-rencana-koalisi-kebangsaan-yang-libatkan-kib-kkir-dan-pdip/
Di tengah pertarungan narasi itu, Zulkifli memandang penting posisi mubaligh sebagai penyampai Islan Tengah yang pancasilais. “Jika diibaratkan, mubaligh harus menjadi sales marketing, communication officer, sekaligus repersentative dari keagungan ajaran Islam,” tulis Zulkifli.
Zulkifli mengingatkan, bahwa Indonesia dibangun oleh para ulama. Mubaligh hendaknya menyampaikan narasi untuk Indonesia damai. Ada dua hal yang bisa dilakukan mereka. Pertama, menyampaikan materi dakwah dan ceramah yang memperkuat cinta tanah air, bangsa, dan negara. Kedua, tampil sebagai pribadi yang menunjukkan kecintaan kepada bangsa dan negara.
Islam Tengah memikirkan cita-cita kemerdekaan untuk Indonesia Emas 2045. Zulkfili memandang perlunya ‘rekonsiliasi nasional untuk mengembalikan keutuhan kita dalam berbangsa dan bernegara’.
Kedua, perlunya ‘spirit bhineka tunggal ika, nasionalisme yang berketuhanan adalah landasan ideologi yang final bagi Indonesia. Ketiga, perlunya ‘memikirkan ulang format penyelenggaraan pesta demokrasi dan politik elektoral Indonesia, dengan mengacu pada sila keempat Pancasila…yang tak hanya berpikir soal kompetisi menang-menangan belaka’.
Indonesia Emas 2045 akan tercapai dengan kegemilangan jika semangat persatuan dijaga, cita-cita kemerdekaan kembali diteguhkan, keadilan sosial ditegakkan, dan kembali ke titik tengah. “Tanpa visi yang jelas untuk mewujudkan kesejahteraan umum dan keadilan sosial, 300 juta rakyat Indonesia nanti akan bertarung dengan masalah-masalah baru, seperti kemiskinan kota, akses publik dan transportasi, krisis air bersih, dan lainnya. Menjadi negara besar bukan sekadar memastikan pertumbuhan ekonomi belaka,” tulis Zulkifli.
“Memastikan Indonesia Emas 2045 adalah mendorong semua pihak untuk ikut memperbaiki sistem yang ada. Sistem politik, sistem ekonomi, sistem kebudayaan dan lainnya sehingga sesuai dengan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.” (halaman 80)
Zulkifli memungkasi manifesto politik setebal 83 halaman itu dengan empat hal mendasar yang perlu dikawal bersama oleh bangsa Indonesia. Pertama, pengedepanan prinsip kedaulatan dan memperkuat identitas nasional kita sebagai bangsa.
Kedua, kesadaran geopolitik dan keinginan untuk memenangi kompetisi global harus hadir dalam pikiran berbangsa kita, Ketiga, melalui kompetisi global itu, semua pemangku kebijakan harus memiliki keberpihakan kepada kepentingan bangsa dan negara.
Keempat, untuk memenangi persaingan global yang makin ketat pasca pandemi, persaingan di era digital, kita harus terus mengembangkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia kita, melalui pendidikan, riset, dan inovasi.
Membaca buku manifesto Islam Tengah mengingatkan saya sekilas pada gagasan-gagasan Nurcholish Madjid, pemikir muslim kontemporer Indonesia yang juga anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagaimana Zulhas.
Cak Nur mempromosikan Islam wasathiyah. Dalam buku Pintu-Pintu Menuju Tuhan, ia mengatakan, ‘…kaum beriman adalah ummah wasath. Yaitu bahwa mereka diharuskan, atau setidak-tidaknya diharapkan, menampilkan diri mereka begitu rupa, sehingga dapat bertindak sebagai wasit dan saksi dalam pergaulan di antara sekalian umat manusia. Itu berarti bahwa mereka harus bertindak adil…’
Cak Nur juga menempatkan Pancasila dalam posisi terhormat sebagai kalimat pemersatu, sebagaimana tertuang dalam buku Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah. ‘Pancasila itu dari beberapa fungsi dan kedudukannya antara lain merupakan titik temu (common platform, kalīmah sawā’) antara berbagai komunitas kemasyarakatan (societal community) dalam bangsa kita, terutama komunitas keagamaan’.
Pada akhirnya, melalui Islam Tengah, Zulhas mengingatkan lebih keras apa yang pernah disuarakan Cak Nur. “Kita berbeda-beda, tetapi mencintai dan memperjuangkan Indonesia yang sama.” [wir]






