Pamekasan (beritajatim.com) – Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pamekasan, Lian Fawahan melaporkan Eko Ariwidodo ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Pamekasan, akibat insiden pengrusakan banner berlogo organisasi yang dipimpinnya.
Salah satu dosen filsafat di IAIN Madura tersebut, dilaporkan akibat perilaku kurang terpuji dengan merusak banner PMII Fasya IAIN Madura, Jum’at (15/11/2019). Parahnya, banner yang dirusak justru dimasukkan ke tong sampah dan memancing amarah jajaran kader PMII.
Insiden tersebut juga membuat ratusan mahasiswa PMII IAIN Madura, berunjuk rasa menuntut sikap tegas para pimpinan kampus terhadap dosen yang juga tercatat sebagai anggota senat IAIN Madura, Senin (18/11/2019) kemarin. Hingga akhirnya berujung pada pelaporan ke SPKT Polres Pamekasan.
“Kami atas nama Cabang PMII Pamekasan, sudah melaporkan insiden pengrusakan ini ke Mapolres Pamekasan. Terlapor atas nama Eko Ariwidodo sesuai tanda terima lapor polisi Nomor: STTLP/290/XI/2019/JATIM/RES PMK,” kata Ketua PC PMII Pamekasan, Lian Fawahan, Selasa (19/11/2019).
[berita-terkait number=”4″ tag=”PMII-Pamekasan”]
Pihaknya menilai insiden tersebut sebagai salah satu bentuk perilaku amoral, apalagi dilakukan seorang dosen yang semestinya menjadi tauladan bagi mahasiswa. “Bagi kami, pengrusakan dan pembuangan atribut PMII adalah sebuah penghinaan kepada organisasi. Makanya kami menempuh jalur hukum,” ungkapnya.
“Kami harap insiden ini menjadi pelajaran bagi kita semua, sehingga kedepan tidak sembarangan laga terhadap sebuah organisasi apapun jenisnya. Tentunya selama organisasi itu tidak terlarang dan tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” pungkasnya.
Sebelumnya Eko Ariwidodo menyampaikan bahwa dirinya tidak memiliki niat melecehkan PMII, bahkan ia juga membantah merusak banner yang dipasang di area kampus. “Saya menurunkan, bukan merusak. Ini hanya berdua persepsi saja,” jelasnya.
Tidak hanya itu, dirinya juga meminta maaf kepada seluruh kader PMII jika perbuatannya dianggap melecehkan dan dianggap salah. “Kami juga sudah meminta maaf kepada saudara-saudara di IKA PMII dan lainnya,” pungkasnya. [pin/ted]






