Surabaya (beritajatim.com) – Crystal Palace mungkin bukan klub yang punya materi dan kualitas pemain jempolan di jagat sepak bola. Taktik yang dimiliki klub ini pun tidak begitu banget. Palace hanya rutin jadi klub papan tengah Liga Inggris setiap musim bergulir.
Namun, baru-baru ini ada gebrakan yang membuat klub asal London Selatan itu dianggap revolusioner. Khususnya, dari segi sistem akademi pemain muda Crystal Palace.
Pada 29 Januari 2022, Crystal Palace melalui situs resminya cpfc.co.uk menjelaskna jika mereka akan membuka fitur asistensi bernama “Player Care Officer” pada akademi klub yang baru.
Program itu ditujukan klub kepada para pemain akademi usia 17-22 tahun, supaya mereka tetep berkembang di luar adanya potensi gagal debut jadi pemain profesional. Ide ini diinisiasi oleh Direktur Akademi klub yaitu Gary Issott, yang dulunya sempat stres akibat gagal debut dari akademi Luton Town.
Chairman dari Crystal Palace, Steve Parish pun menyetujui ide itu dengan menyepakti program asistensi itu. Nantinya, para pemain jebolan akademi Palace akan mendapat ‘after-care package’ yang berupa asistensi serta pemberian saran terkait masa depan karir para pemain.
Terutama bagi pemain yang gagal debut atau tidak memenuhi standar klub. Crystal Palace tidak ingin hidup pemain jebolan akademi mereka hancur karena hal itu. Ketika sang pemain dirasa kurang bagus di dunia sepak bola, mereka akan diberi saran jalan karir lain.
Aksi yang dilakukan Palace ini penting sekali terutama bagi pemain akademi yang gagal. Sebab, tidak sedikit kasus di mana para pemain muda yang gagal meraih mimpi jadi pemain bola karena cedera atau kurang bagus itu berakhir tragis.
Salah satu contohnya kasus Jeremy Wisten & Matthew Langton yang bunuh diri karena depresi atas kegagalan mereka menembus skuat utama. Sepak bola memang bukan olahraga bagi sembarang orang. Sebab, selain dituntut buat kuat secara fisik, mental pun juga mesti sekuat baja.
Inovasi yang dicanangkan Crystal Palace ini tentu berguna untuk membantu para pemain akademi. Karena sejatinya, akademi sepak bola menyimpan banyak sekali sisi hitam putih yang tidak diketahui masyarakat luas. (dan/ian)






