Sleman (beritajatim.com) – Meski pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur masih lama, isu perpolitikan di Jawa Timur terus menghangat. Khususnya potensi penentuan kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim.
Beberapa kandidat yang bermunculan menimbulkan banyak pertanyaan publik, mana saja yang pada akhirnya akan maju menjadi paslon Cagub dan Cawagub Jatim. Sebut saja beberapa nama yang sudah bermunculan seperti Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini, Emil Elestianto Dardak, Abdul Halim Iskandar (Gus Halim), maupun Syaifullah Yusuf (Gus Ipul)
Pengamat Politik dan Sosial Universitas Gadjah Mada (UGM), Hempri Suyatna mengatakan, terkait Pilgub Jatim November 2024 mendatang, peta politiknya masih sangat dinamis dan mudah sekali berubah.
“Untuk peta politik Pilkada Jatim saya kira masih sangat dinamis sekali. Satu hal yang paling berpengaruh adalah hasil dari Pemilu Februari 2024 mendatang. Artinya siapa kandidat yang bakal bersaing dalam konstelasi Pilgub di Jatim erat pengaruhnya dan bergantung pada hasil Pilpres dan Pileg Februari 2024 ini. Jadi Pemilu menentukan Pilgub Jatim besok,” kata Hempri kepada beritajatim, Senin (7/8/2023).
Mengapa Pemilu 2024 menjadi penentu, Hempri menyatakan karena di saat itulah akan terlihat koalisi partai dan calon. Dirinya juga menegaskan selama perjalanan Februari hingga nanti jelang November 2024 mendatang akan berpotensi banyak bermunculan kans calon-calon baru atau yang tak terduga sama sekali.
BACA JUGA:
Running Pilpres atau Pilgub Jatim, Khofifah Mulai Buka Suara
Dosen Fisipol UGM ini kemudian berpesan kepada calon calon yang dikandidatkan untuk maju Pilgub Jatim untuk slow saja dalam melakukan sosialisasi.
“Calon-calon ini tetap harus mulai mengenalkan diri dan muncul pelan pelan. Namun slow saja jangan sampai kehabisan bensin ditengah jalan. Karena jika saat ini sudah habis habisan maka masih ada Pemilu Februari 2024 yang sangat mungkin mempengaruhi peta politik untuk pemenangan Pilgub di Jatim,” bebernya.
Ia kemudian merekomendasikan untuk calon calon ini melakukan pemetaan awal dan mengetahui kekuatan dan potensi masing masing serta memperbandingkan dengan potensi dan kekuatan lawan seperti melakukan observasi politik dan sebagainya.
Ditanya mengenai kans potensi tinggi pada beberapa nama yang memang sudah memiliki elektabilitas yang tinggi, Hempri menyatakan potensi ini selalu ada. Namun di sela potensi tetap saja harus diwaspadai dengan kekuatan pemain baru yang berkemungkinan hadir paska-Pemilu Februari 2024 dan bersifat tak terduga.
“Hal ini bisa saja dan sangat mungkin terjadi,” jelasnya.
BACA JUGA:
Survei SSC: Fauzi Satu-satunya Wakil Madura di Pilgub Jatim
Hempri menegaskan ada potensi dinamika yang terjadi di Jatim yang mana siapa parpol pengusung harus menjadi representasi dari dua kelompok besar yakni nasionalis dan kaum Nahdliyin yang memang menjadi basis massa terbanyak di Jatim.
“Peta politik Jatim akan sangat terkait dengan bagaimana karateristik antara masyarakat Matraman dan Tapal Kuda,” jelas Hempri lagi.
Tapal kuda adalah nama sebuah kawasan di bagian timur Provinsi Jawa Timur. Daerah ini mencakupi tujuh kabupaten yaitu Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Lumajang, Pasurun, Situbondo dan Probolinggo).
Sementara Mataraman meliputi Madiun Raya (Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pacitan, dan Kabupaten Ponorogo), Kediri Raya (Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk, dan Kabupaten Trenggalek), Jombang, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, dan kawasan Pesisir (Bojonegoro, Tuban, Lamongan)
Ditanya lagi mengenai kans dan potensi pemenangan tokoh atau parpol lain yang tidak merepresentasikan dari dua kelompok yang mendominasi Jatim yakni Nasionalisme dan Nahdliyin, Hempri menyatakan peluang ini sangat terbuka lebar.
“Contoh di Bojonegoro dan Lamongan malah PAN yang kuat,” tutupnya. [aje/beq]






