Bojonegoro (beritajatim.com) – Subholding Gas PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Area Head Bojonegoro, Muhammad Arif mengatakan, jaringan gas rumah tangga (Jargas) bisa menjadi alternatif adanya kelangkaan elpiji 3 kilogram (kg).
Namun, pihaknya mengaku tidak bisa serta merta memasang instalasi jaringan gas. Sebab, proyek pemasangan instalasi pipa gas sendiri harus berdasarkan inisiatif pemerintah daerah (Pemda) yang diserahkan kepada Kementerian ESDM.
“Jika ada persetujuan dari Kementerian ESDM, maka akan ditenderkan untuk pemasangan instalasi. PGN bertugas mengelola dan mengoperasikan,” ujarnya, Kamis (08/06/2023).
Sebelumnya, lanjut Arif, pihak PGN sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat baik sebelum maupun sesudah jaringan gas dialiri gas bumi. Sosialisasi dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah masyarakat maupun melalui surat hingga ke tingkat pemerintah RT. Sehingga masyarakat yang tertarik bisa mengusulkan ke pemerintah daerah.
Pihaknya berharap, dengan kondisi kelangkaan elpiji 3 kg di beberapa wilayah belakangan ini, pemerintah daerah mengambil inisiatif untuk mengajukan penambahan pemasangan instalasi jaringan gas rumah tangga. Di Kabupaten Bojonegoro sendiri pemasangan instalasi gas tahap pertama sebanyak 10 ribu rumah tangga.
Baca Juga: Ribuan Pelanggan Jargas di Bojonegoro Diputus, Elpiji 3 Kg Juga Langka
Namun, per 1 Juni 2023 lalu ada kurang lebih 888 sambungan rumah (SR) yang diputus. Rata-rata pemutusan jaringan gas bumi itu karena pelanggan menunggak pembayaran hingga menolak untuk melanjutkan berlangganan. Sebagian besar pelanggan yang masih bertahan saat ini berada di kawasan kota, karena merasa lebih praktis dibanding elpiji.
Dari analisa yang dilakukan PGN sebagai pengelola Jargas, masyarakat yang berhenti berlangganan ini sebagian besar berasal dari wilayah pedesaan dan dekat hutan. Mereka sebelumnya untuk kebutuhan memasak masih menggunakan bantuan kayu bakar. Setelah harus membayar, sehingga merasa keberatan.
“Misalnya di Kecamatan Ngasem. Pelanggan banyak yang nunggak pembayaran ini analisa PGN karena yang awalnya menggunakan kayu bakar kemudian beralih menggunakan gas alam. Karena ada pembayaran sehingga tidak melanjutkan berlangganan,” terangnya.
Baca Juga: Pelanggan Juga Punya Tanggung Jawab Perawatan Instalasi Pipa Jargas
Selain itu, pemasangan pipa juga dilakukan di rumah kosong atau tidak ada penghuninya. Kemudian, ada juga yang tidak meminta untuk dipasang tetapi oleh kontraktor dipasang. “Atau awalnya ingin pasang, tapi setelah bayar Rp 4.250 per meter kubik merasa berat,” jelasnya.
Sementara diketahui, pemasangan jaringan gas rumah tangga (Jargas) tahap pertama di Bojonegoro ini berada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bojonegoro, Ngasem, dan Kecamatan Gayam. Dengan rinciannya sebanyak 6.000 sambungan rumah (SR) di wilayah perkotaan, dan 4.000 SR di Kecamatan Gayam dan Ngasem. [lus/ted]






