Lamongan (beritajatim.com) – Sebagai wujud syukur atas hasil panen yang melimpah, masyarakat Desa Latukan Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan menggelar festival pesta buah. Dalam festival itu, pihak panitia telah menyediakan sebanyak 17 gunungan buah seberat 7 ton yang bisa dinikmati sepuasnya oleh pengunjung secara gratis.
Diketahui, festival yang menyuguhkan beragam jenis buah tersebut digelar rutin setiap tahunnya. Meski pada tahun ini masih dalam suasana pandemi, namun para pengunjung yang datang karena penasaran tetap semarak. Untuk mengantisipasi banyaknya pengunjung, panitia tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Desa Latukan M Jiono mengungkapkan, bahwa perayaan festival buah ini bertempat di kawasan Balai Desa Latukan, yang telah diselenggarakan pada tanggal 25 September sampai 1 Oktober 2021 bagi pelajar, dan tanggal 2-3 Oktober 2021 bagi masyarakat umum.
Agar pengunjung bisa mendapatkan buah gratis yang telah disiapkan oleh panitia, mereka hanya perlu membeli tiket masuknya saja. Untuk harga tiket masuk, bagi pelajar dikenakan biaya Rp 3 ribu, dan bagi masyarakat umum dikenakan biaya Rp 5 ribu. Perayaan festival buah pada tahun ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan festival buah pada tahun-tahun sebelumnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”lamongan”]
Menurut Jiono, jika sebelumnya para pengunjung yang hadir bisa secara langsung berebut gunungan buah yang disusun menyerupai nasi tumpeng yang besar. Namun, karena masih dalam situasi pandemi Covid-19, maka kali ini hal itu ditiadakan. Sebagai gantinya, warga bisa makan sepuasnya 7 ton buah yang disediakan oleh panitia.
“Kalau dulu memang masyarakat atau pengunjung yang datang bisa mengambil langsung gunungan buah yang kita sediakan, tapi kali ini tidak mas,” kata Jiono saat dikonfirmasi oleh wartawan, Senin (4/10/2021).
Tak hanya itu, Jiono menyampaikan, bahwa perayaan festival buah pada tahun ini, panitia telah menyediakan sebanyak 17 gunungan buah yang berjajar di sepanjang jalan Desa Latukan. Gunungan buah itu merupakan hasil panen dari warganya yang kemudian dikordinir oleh tiap RT (Rukun Tetangga) untuk disumbangkan secara gratis kepada pengunjung.
“Kita minta partisipasi setiap RT yang warganya memiliki buah semangka, blewah atau yang lainnya bisa disumbangkan, dan pada puncak festival ini dibagikan secara gratis kepada setiap pengunjung,” tandasnya.
Lebih jauh, Jiono menjelaskan, bahwa festival buah yang digelar di desa Latukan ini bertujuan untuk meningkatkan harga buah warga di pasar. Selain itu, festival ini juga dimaksudkan sebagai ajang promosi bagi desa yang ia pimpin. Berdasarkan data yang diserap, imbuh Jiono, terdapat 80 persen penduduknya yang berprofesi sebagai petani, baik petani padi, semangka, blewah, dan lain-lain.
“Kita ingin menunjukkan kepada orang luar bahwa di desa kami ini memiliki potensi buah semangka, blewah dan lainnya yang luar biasa. Kegiatan ini juga merupakan ajang promosi bagi desa. Di Desa Latukan ada sekitar 80 persen yang berprofesi sebagai petani, sedangkan sisanya yang 20 persen ini adalah petambak,” sambungnya.
Selain perayaan pesta buah, di Desa Latukan juga digelar pameran ikan koi, hal ini lantaran Latukan memang dikenal sebagai sentra produksi ikan terbaik di Lamongan. Wajar saja, kegiatan ini kemudian menyedot perhatian publik, mulai dari pelajar, masyarakat umum, hingga para kolektor ikan koi dari beberapa daerah di wilayah Jawa Timur.
“Di desa kami ini banyak warga yang menekuni budidaya ikan koi dan ini juga menjadi keunggulan tersendiri bagi kami, karena banyak pencinta ikan koi yang kemudian tertarik dan berbondong-bondong datang ke Desa Latukan,” terangnya.
Sebagai informasi, Desa Latukan juga menyediakan wisata petik buah bagi pengunjung yang ingin menikmati sensasi memetik buah secara langsung, lalu setelah ditimbang, buah-buah hasil petikan sendiri itu bisa dibayar langsung di area persawahan untuk kemudian dibawa pulang.
Lalu berdasarkan data yang dihimpun, Desa Latukan memiliki total lahan persawahan dengan luas 290 hektar, yang meliputi lahan buah semangka seluas 27 hektar (10%), lahan buah melon golden seluas 2,9 hektar (1%), dan blewah sangres serta bisma seluas 269 hektar (89%).
Mengenai produktifitas buah di desa tersebut, rata-rata per hektarnya bisa mencapai 15 hingga 20 ton. Oleh karena itu, jika ditotal maka Desa Latukan mampu memproduksi buah sebanyak 5.800 ton per tahunnya.
Sementara mengenai harga buah per kilogramnya, untuk buah melon mandarin dan golden rata-rata para petani menjualnya dengan harga Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu per kilogramnya, untuk buah blewah atau garbis dijual dengan harga Rp 2 ribu per kilogram, dan untuk buah semangka di kisaran Rp 3500 per kilogramnya.
Selanjutnya terkait jangkauan pasar, hasil produksi buah dari Desa Latukan ini telah menjangkau sejumlah pasar buah lokal, baik yang ada di daerah Jawa Timur maupun JawaTengah. Saat ini, juga banyak permintaan yang datang dari kabupaten/kota tetangga, seperti Tuban, Bojonegoro, Gresik, Surabaya dan lainnya. Sedangkan di Jawa tengah, permintaan paling tinggi datang dari Kota Semarang.[riq/kun]






