Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat politik Universitas Airlangga Surabaya, Airlangga Pribadi menilai pertemuan politik antara Bakal Calon Presiden (Bacapres) PDIP, Ganjar Pranowo dengan ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar tak hanya pertemuan biasa, namun melebihi itu.
Menurut dia, pertemuan itu memiliki tujuan politik yang lebih penting ditinjau dari proses kerjasama politik dalam Pilpres 2024. Pertama, pertemuan kedua politisi tersebut memperlihatkan kemungkinan mulai munculnya conflict of interest diinternal koalisi partai politik pendukung Prabowo Subianto.
“Apabila kita melihat postur gemuk dari empat partai pendukung koalisi maka tiga partai pendukungnya baik Golkar, PAN maupun PKB masing-masing memiliki kepentingan kuat untuk menampilkan tokoh mereka sebagai calon wakil presiden,” kata Airlangga saat dihubungi, Sabtu (19/8/2023).
Dalam konteks ini, lanjutnya, posisi Cak Imin yang sebelumnya telah diyakinkan untuk menjadi kandidat cawapres dari Prabowo Subianto, sangat mungkin tergeser dengan masuknya PAN dan Golkar ke dalam koalisi. “Dengan masuknya PAN dan Golkar dengan agenda cawapresnya masing-masing membuat posisi Cak Imin dapat tergeser ke calon-calon lainnya,” katanya.
“Airlangga menyebut pertemuan kedua elite tersebut menjadi rasional dalam konteks menjadi bagian dari sikap politik Muhaimin dan PKB untuk membangun aliansi dengan Ganjar” tambahnya.
Kedua, lanjut Airlangga, pilihan politik untuk lebih mendukung Ganjar menjadi rasional ditinjau dari efek ekor jas yang akan didapat oleh PKB. Hal itu, mengingat ditingkat konstituen PKB menurut survey Indikator menunjukkan bahwa 40,3 persen pemilih PKB memilih Ganjar Pranowo.
Sedangkan, Prabowo Subianto mendapat dukungan sebesar 30,5 persen, dan Anies Baswedan 25 persen. “Dalam kalkulasi seperti ini apabila PKB ingin memaksimalisasikan perolehan dalam pilpres maka pilihan yang ada, adalah mendukung pasangan Ganjar Pranowo,” katanya.
Sementara itu, kata dia, apabila PKB dengan Cak Imin masuk dalam koalisi Ganjar, maka akan mempengaruhi soliditas politik bagi pasangan tersebut.
“Skema Nasionalis-religius yang menjadi orientasi politik dari Ketum PDI Perjuangan yakni Megawati Soekarnoputri menjadi sejalan dengan kerjasama politik yang terbangun antara PDI Perjuangan, PPP dan PKB,” pungkas Airlangga.[asg/kun]
BACA JUGA: Reuni Ganjar-Cak Imin Buat Komunikasi Politik Cair






