Jombang (beritajatim.com) – Cak Imin, panggilan akrab Muhaimin Iskandar, Bakal Calon Presiden (Bacapres) dari Anies Baswedan, banyak menyebut nama KH Bisri Syansuri ketika menyampaikan pidato deklarasi di Hotel Majapahit Surabaya, Sabtu (2/9/2023).
Memang, Kiai Bisri bukan orang lain bagi Cak Imin. Kiai Bisri adalah kakek buyutnya. Kiai ahli fikih ini merupakan pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang yang juga pendiri NU (Nahdaltul Ulama), bersama Hadratussyaikh KH Hasyim Asya’ri dan KH Wahab Chasbullah.
Tiga tokoh tersebut akhirnya menjadi kerabat. Kiai Bisri menikah dengan adik kandung Kiai Wahab Chasbullah yang bernama Nur Khodijah. Selanjutnya, Kiai Bisri juga besanan dengan Kiai Hasyim Asy’ari, yang tak lain gurunya sendiri.
Karena putri Kiai Bisri yang bernama Sholihah menikah dengan Abdul Wahid, putra dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari. Dari pohon keluarga ini banyak melahirkan tokoh hebat. Salah satunya adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4.
BACA JUGA:
Dijodohkan dengan Anies Sejak 2021, Cak Imin: Gak Bahaya Ta?
Selain, Sholihah, putra-putri Kiai Bisri lainnya adalah Ahmad Atoillah, Muassomah, Muslihatun,
Musyarofah, Sholihun, Ali Abd Aziz, serta Shohib. Putri Kiai Bisri yang bernama Mu’asomah menikah dengan KH Hasbullah Salim.
Pasangan ini memiliki dua anak perempuan, Sholihati dengan Muhassonah. Sholihati menikah dengan KH Yusuf Kholil, yang memiliki anak bernama Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Irsyad Yusuf. Gus Ipul menjabat Wali Kota Pasuruan dan Sekjen PBNU, sedangkan Gus Irsyad menjadi Bupati Pasuruan.
Sementara, Muhassonah menikah dengan KH M Iskandar. Pasangan ini dikarunia enam anak. Ada dua orang dari enam anak tersebut yang dikenal publik. Yaitu Abdul Halim Iskandar, menjabat sebagai Menteri Desa PDTT dan Muhaimin Iskandar yang manduduki jabatan Ketua Umum PKB, dan didaulat menjadi Bacawapres dari koalisi perubahan.
BACA JUGA:
Berangkat Deklarasi, Cak Imin: Niat Ingsun Ngabdi Bongso Negoro
“Mas Anies adalah cucu dari pejuang kemerdekaan, AR Baswedan. Yang berkomitmen membela bangsa dan negara. Sama seperti saya, yang merupakan cucu/cicit dari Mbah Bisri Syansuri, yang juga berjuang untuk kemerdekaan. Bahkan menjadi kepala staf markas ulama di Surabaya yang menjadi posko pengusiran penjajah,” kata Cak Imin dalam pidatonya, Sabtu (2/9/2023).
Nah, kesamaan sejarah ini, kata Cak Imin, akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari amanat sejarah. Amanat perjuangan. Amanat cita-cita. “Serta amanat meneruskan berbagai momentum keberhasilan para pendahulu kita semua. Mohon doanya sehingga kami bisa meneruskan spirit juang untuk kemajuan bangsa,” ujarnya. [suf]






