Peristiwa

Warga Jalan Sasak Ampel Surabaya Kibarkan Bendera Putih, Ada Apa?

Warga jalan Sasak Ampel Surabaya Kibarkan Bendera Putih

Surabaya (beritajatim.com) – Sejumlah warga Jalan Sasak Kawasan Wisata Religi Ampel Surabaya mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah terhadap kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

“Dengan saya memakai bendera putih ini menandakan bahwa kita menyerah. Menyerah dengan keaadan yang terjadi dengan aturan yang pemerintah bikin,” kata salah satu warga Jalan Sasak Ampel, Fahim Ady kepada¬†beritajatim.com, Kamis, 22 Juli 2021.

Menurutnya, dia mengangkat bendera putih berarti menandakan menyerah dalam segala rencana yang dibuat pemerintah dalam masalah PPKM, apalagi PPKM membuat para pedagang di kawasan wisata religi Ampel terdampak secara ekonomi.

“Terdampak sekali, bahkan ada yang satu minggu tidak mendapatkan penghasilan sama sekali, terus bagaimana nasib rakyat-rakyat kecil,” katanya.

Dia mengatakan, omzet pedagang di kawasan Ampel menurun drastis, bahkan di dalam pasar ada pelarangan tidak boleh ada yang buka. Itu mengakibatkan omzet pedagang menurun 70%.

“Omzet menurun drastis, selama PPKM darurat ada yang tutup ada yang buka. Kalau buka sampai jam 8 malam dan ini sangat berpengaruh. Ya itu tadi bahkan ada yang seminggu tidak mendapatkan penghasilan, sedangkan mereka mempunyai anak dan istri yang setiap hari harus belanja dan punya anak mereka harus membayar sekolah terus bagaimana kalau pemerintah tidak peka terhadap semua ini,” tegasnya.

Jadi dia mewakili pada umumnya warga disekitar Jalan Sasak untuk membuat video yang akhirnya viral di media sosial tersebut sebagai aspirasi masyarakat disini. Karena masyarakat sudah jenuh dan lelah dengan keadaan negara.

“Video dibuat semalam, dibuat secara mendadak atau spontan. Berawal saat kita berbicara dan berdiskusi terus kita melihat keadaan sampai kapan kita seperti ini, kalau bukan kita siapa lagi yg bergerak mewakili aspirasi masyarakat,” katanya.

“Apalagi ada rencana diperpanjang terus kita mau makan apa? rakyat mau berbuat apa kalau pemerintah tidak memperhatikan atau tidak memsubsidi rakyat disekitar kita,” tambahnya.

Dia berharap agar pemerintah memperhatikan aspirasinya mewakili masyarakat agar didengar dan dikakukan evaluasi. “Agar apa? agar lebih ditinjau lagi dengan masalah tentang PPKM ini. Kalau bisa diberhentikan PPKM,” tandasnya.

Sementara itu, Yasmin salah satu pedagang di kawasan wisata religi Ampel mengaku usahanya sangat terdampak terhadap kebijakan PPKM darurat, bahkan penurunan omzetnya mencapai 95%.

“Yo munting pak,¬† ppkm darurat ini berdampak penurunan omzet hingga 95% bahkan pernah sama sekali tidak ada orang masuk,” ceritanya.

Dia berharap pemerintah segera memberikan bantuan dan bisa diberikan secara merata agar rakyat kecil  bisa survive menghadapi pandemi ini.(asg/ted).



Apa Reaksi Anda?

Komentar