Ngawi (beritajatim.com) – Sumur warga Dusun Krawong Desa Cantel Kecamatan Pitu Kabupaten Ngawi mengering. Mereka pun harus mengambil air dari sumber air di dalam hutan.
Sumber air itu ditempuh dengan jalan kaki dengan jarak 2 kilometer dari rumah. Sehari mereka bisa bolak balik sampai lima kali. Total perjalanan yang mereka tempuh mencapai 20 km.
Sampai di lokasi mata air pun, warga tak langsung bisa mengambil air. Mereka harus mengantre dengan yang lain. Air yang mereka ambil pun hanya secukupnya agar sumber air tak langsung habis.
Jaringan pipa yang sudah dipasang di area itu tak lantas membuat mereka mendapatkan air bersih cukup saat kemarau melanda. Total 200 jiwa di dusun tersebut yang masih harus berjalan ke hutan untuk mendapatkan air bersih keperluan konsumsi.
Sehari, mereka bisa bolak-balik sampai lima kali karena, mereka hanya mengambil air secukupnya sekali jalan. Mereka membawa kendil yang kapasitasnya sekitar 5 liter hingga 10 liter.
BACA JUGA:
Kronologi Penangkapan 2 Oknum Perhutani Ngawi
“Sehari bisa lima kali bolak-balik. Sudah ada bantuan sumur dan pipa, tapi tidak berfungsi. Jalan kaki ke hutan, sekali jalan 2 kilometer,” kata Supriyati, warga setempat.
Sukirah, warga setempat juga menyuarakan hal yang sama. Dulu mereka mengaku dijanjikan mendapatkan air bersih dari sumur dalam dan jaringan pipa. Namun, hingga kini tak berfungsi.
“Dulu dijanjikan air bersih tapi hingga kini airnya tidak pernah keluar warga ya gini harus mencari air hingga ke hutan untuk memasak,” katanya.
BACA JUGA:
Warga Ngawi Manfaatkan Bengawan Solo Cukupi Kebutuhan Air
Pun, Desa Cantel menjadi salah satu desa yang mendapatkan dropping air dari BPBD Ngawi. Yudha Herlambang, Petugas BPBD Ngawi mengatakan dropping air juga dilakikan di sebanyak 7 desa lain di empat kecamatan di Ngawi.
“Yakni Kecamatan Pitu, Bringin, Karanganyar, dan Kasreman,” katanya. [fiq/but]







