Banyuwangi (beritajatim.com) – Petani Banyuwangi tak perlu lagi risau masalah ketersediaan dan peredaran pupuk bersubsidi. Pasalnya mereka bisa memantau langsung melalui gawainya dengan mengakses sebuah aplikasi layanan publik bernama Smart Kampung.
Dalam aplikasi itu terdapat ragam menu dan fitur yang bisa dimanfaatkan. Salah satunya, inovasi Cek Pubertas (Cek Pupuk Bersubsidi secara Terbatas) yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi.
Inovasi Cek Pubertas ini diciptakan khusus bagi petani di Banyuwangi. Dalam aplikasi itu banyak ragam manfaatnya, salah satunya untuk dibuat untuk memudahkan petani mengetahui dan memantau alokasi pupuk yang dimiliki.
Baca Juga: Capres Prabowo: Presiden ke-6 dan ke-7 RI Mendukung Saya!
Selain itu juga untuk mengetahui jumlah pupuk yang telah ditebus, maupun jumlah sisa kuota yang dimiliki. Tak hanya itu, dalam menunya juga bisa untuk menghubungi Kelompok Tani pembuat pupuk alternatif apabila alokasi pupuknya sudah habis.
“Dengan sistem ini membuat petani memudahkan dalam pemenuhan kebutuhan pupuk, apabila jatah pupuk subsidi miliknya telah habis. Dengan diintegrasikan di Smart Kampung aplikasi yang berisi ragam pelayanan publik, harapan kami ini bisa memudahkan petani untuk melakukan banyak hal cukup dalam satu aplikasi, di Smart Kampung,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Senin (20/11/2023).
Cek Pubertas juga mengajak partisipasi petani dalam melakukan fungsi kontrol dan mengawasi distribusi pupuk bersubsidi. Sebelumnya, fungsi itu hanya bisa dilakukan oleh Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3). Termasuk, informasi lain mengenai produksi pupuk alternatif, kelompok tani, hingga harga HET pupuk.
Baca Juga: 450 PPPK Ikuti Masa Orientasi, Sekda Tuban Pesan Agar Mengenali Etika Kerja
“Petani tidak perlu khawatir jika pupuk subsidi habis, karena ada alternatif solusi penggunaan pupuk organik yang bisa diakses melalui Smart Kampung,” tambah Ipuk.
Salah satunya dirasakan petani padi dari Poktan Tani Joyo, Musiman Suprapto. Petani berusia 60 tahun tersebut mengaku sangat terbantu dengan adanya aplikasi ini.
Ia mengatakan bisa melihat sisa kuota pupuk subsidi yang dimilikinya dalam setahun, dan bisa berjaga-jaga untuk menggunakan pupuk organik di kelompok tani terdekat jika pupuk subsidi habis. Musiman mengaku lebih nyaman menggunakan pupuk organik karena produksi padinya meningkat.
“Sebelumnya saya pakai pupuk kimia, tapi makin lama volume pupuk yang harus digunakan semakin banyak, tapi struktur tanah jadi padat. Setelah saya coba pakai pupuk organik, ternyata volume pupuk yang digunakan makin sedikit, dan tanah menjadi semakin sehat. Hasil panennya juga lebih bagus,”ungkap Musiman. (rin/ian)






