Kulonprogo (beritajatim.com) – Anjloknya Kereta Api Argo Semeru tujuan Gubeng Surabaya dan Gambir Jakarta disusul tersenggolnya Kereta Api Argo Wilis tujuan Bandung dan Jakarta membuat banyak pihak terus melakukan upaya preventif untuk meminimalisir kejadian ini terulang kembali.
Dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM mengungkapkan ada beberapa prediksi penyebab mengapa KA Argo Semeru ini bisa terjadi anjlok di kawasan Sentolo Wates Kulon Progo DIY.
Peneliti Senior Pustral UGM, Dr Ir Dewanti MS menuturkan ada beberapa prediksi kemungkinan terjadi anjloknya KA ini.
Penyebab anjlok KA ini bisa saja disebabkan karena geometri jalan rel tidak sesuai dengan kecepatan.
“Ada ketentuan misalnya dari tikungan tertentu, untuk kecepatan tinggi harus ada jari jari tikungan besar dan jari jari kecil jangan kencang kencang dan kemungkinan lain,” ujar Sekretaris Pustral UGM ini, Selasa (17/10/2023).
BACA JUGA:
Imbas Argo Semeru Anjlok, Rute Perjalanan KA Dialihkan
Prediksi lain berkemungkinan juga struktur jalan rel yang kurang sempurna seperti agregrat yang ada dibawah rel tidak bagus.
“Makanya harus ada pemeliharaan secara rutin misalnya ada organ yang rusak, terlepas atau hilang kena aliran air jadi terbawa atau malah ada rongga besar di bawah rel. Semua berpengaruh dan berpotensi,” bebernya.
Bicara mengenai rel,imbuhnya ada kemungkinan juga satu rel ada yang tidak lurus (melekuk) atau ada sebab lain misalnya harusnya dua rel sama sama lurus namun satu jadi bengkok karena mungkin ada benturan dari samping.
“Jadi banyak sebab kenapa bisa terjadi anjlok seperti bisa geometrik (jari jari tikungan), batas kecepatan, struktur rel yang sesuai standar atau tidak dan sebagainya,” paparnya.
Ditanya mengenai kaitan cuaca panas dan terjadi pemuaian pada rel, ia menyebutkan kemungkinan terjadi juga besar. Cuaca panas imbuhnya bisa pula menyebabkan rel memuai.
BACA JUGA:
Argo Semeru Tujuan Surabaya Anjlok, KA Prameks Dibatalkan
“Sehingga rel jadi kepentok sedikit saja jadi tidak lurus sekali lagi segala potensi ini bisa saja terjadi,” bebernya lagi.
Sebagai langkah preventif, Dewanti mengimbau instansi terkait dalam hal ini PT KAI terus melakukan upaya pemeliharaan dan monitoring secara rutin dari sisi struktur jalan rel, rongga penambat, bantalan dan sebagainya.
“Upaya preventif soal KAI saya kira sudah ada SOP yang cukup jelas dan upaya preventif dari instansi terkait saya kira sudah dilakukan semaksimal mungkin. Namun memang kadang ada hal hal diluar prediksi kita seperti misalnya bencana alam atau gempa bumi yang menjadikan rusak struktur jalan rel jadi tidak bisa terhindarkan,” tutupnya. [aje/beq]






