Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Pengrajin Cobek di Pasuruan Jatim Tak Ingin Tinggalkan Tradisi

Pasuruan (beritajatim.com) – Menjelang Maulud Nabi banyak pengrajin grabah khususnya cobek yang diserbu oleh pembeli. Hal ini diakibatkan warga di Pasuruan menjadikan cobek sebagai wadah parcel.

Namun, saat ini pengrajin grabah khususnya cobek sudah semakin sedikit. Dalam satu kampung yang dulunya tempat pengrajin grabah, saat ini hanya menyisakan Sofah warga Randusari kecamatan Gadingrejo Pasuruan Kota.

“Saya bekerja jadi pengrajin grabah ini sudah lebih dari 30 tahun. Selama ini saya membuat kerajinan grabah seperti cobek hanya saya kerjakaan sendiri,” ujar wanita berkerudung tersebut.

Sofah yang berusia 52 tahun tetap membuat produksi grabah di rumahnya. Karena produk grabah ini merupakan bisnis turun temurun yang sudah diberikan oleh kakek neneknya.

Pesanan yang masuk hanya dari wilayah Pasuruan saja seperti Winongan, Karanglo dan Pandaan. Jika menjelan peringatan Maulid Nabi Sofah bisa memproduksi sehari bisa membuat 50 sampai 75 cobek itupun ia kerjakan sendiri tanpa bantuan.

Gerabah jenis cobek ini masih diminati oleh para pemesan dikarenakan pada bibir cobek terdapat ukiran dengan motif maulid. Sedangkan di atas cobeknya terdapat buah dan ditambah pernak pernik lainnya sehingga menjadi parcel.

Kerajinan Gerabah Pasuruan

Harga yang dibandrol untuk membeli cobek ini yakni 2.000 rupiah untuk pembeli eceran. Sedangkan untuk pemborong dibandrol dengan harga 1.700 rupiah perbijinya.

“Untuk harga cobek yang saya pasarkan secara ecer aku hargai 2.000 rupiah. sedangkan kalo borongan saya kasih harga 1.700 perbijinya,” jelas Sofa sambil menunjukkan grabahnya. (ada/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar