Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Pencemaran Sungai Bengawan Solo, DLH Bojonegoro Tunggu Langkah Pemprov

Terlihat air Sungai Bengawan Solo di Kawasan Bendung Gerak Desa Ringinrejo Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro berwarna hitam dan banyak warga yang berada di tepi sungai untuk menangkap ikan yang mabok (pladu), (18/9/2021).

Bojonegoro (beritajatim.com) – Sejak awal September 2021, air Sungai Bengawan Solo berubah warna. Mulai dari hulu di Kabupaten Bojonegoro tepatnya daerah Kecamatan Margomulyo air berubah warna menjadi hitam kemerah-merahan.

Perubahan warna air sungai Bengawan Solo itu diduga karena air sungai tercemar. Perubahan warna air sungai terpanjang di Pulau Jawa itu berangsur turun ke hilir Kabupaten Bojonegoro hingga di Kecamatan Baureno. Di Kecamatan Baureno, tiga hari yang lalu airnya masih berwarna hitam kemerah-merahan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro Hanafi mengungkapkan, masalah perubahan warna air sungai Bengawan Solo tersebut diduga karena adanya pencemaran sungai. Kondisi tersebut, kata dia, sudah dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) dan Pemprov Jawa Tengah (Jateng).

“Sudah pernah dikoordinasikan dengan Pemprov Jatim dan Jateng, tetapi belum ada tanggapan,” ujarnya, Senin (27/9/2021).

Berubahnya warga air sungai Bengawan Solo kata Hanafi menyebabkan kandungan oksigen dalam air berkurang sehingga bisa merusak ekosistem sungai. Selain itu, banyaknya pemanfaatan sungai terpanjang di Pulau Jawa yang diantaranya untuk pengairan pertanian, industri dan sumber air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terganggu. “(Pencemaran) sangat menggangu biota dan hewan yang ada di sungai,” jelasnya.

Sementara Kasi Pengaduan dan Penataan Hukum Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro Insiyah Watiningsih menjelaskan, pihaknya juga telah bersurat kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan sudah ditindaklanjuti dengan melakukan pengecekan uji baku mutu air.

Uji baku mutu air dilakukan di tiga titik, di wilayah Kecamatan Malo, Kecamatan Bojonegoro dan Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Dari hasil pengecekan diketahui kandungan baku mutu air Sungai Bengawan Solo tercemar sedang. “Dugaan pencemaran dari Jawa Tengah, hanya saja sumber pencemaran belum diketahui pasti,” pungkasnya.

Sementara anggota World Cleanup Day (WCD) Kabupaten Bojonegoro Riya mengatakan, kondisi Sungai Bengawan Solo saat musim kemarau baru terlihat tercemar. Termasuk adanya tanda-tanda perubahan pada warna air yang berubah menjadi hitam kemerah-merahan dan beberapa jenis ikan mulai hilang.

“Saat teman-teman (WCD) melakukan kegiatan bersih sungai di Kecamatan Kasiman, kondisinya sangat memprihatikan. Banyak sampah plastik yang ada di sungai,” ujarnya.

Kesadaran budaya membuang sampah pada tempatnya memang masih perlu disosialisasikan secara luas. Termasuk peran pemerintah dalam mendukung penyediaan sarana dan prasarana agar tidak ada yang membuang sampah ke sungai. “Karena ada yang mengaku terpaksa membuang (sampah) ke sungai karena tidak ada TPA,” pungkasnya. [lus/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar