Banyuwangi (beritajatim.com) – Sejumlah faktor menjadi indikator Banyuwangi menjadi kabupaten paling inovatif se-Indonesia dalam program Innovative Government Award (IGA) 2023. Salah satunya yakni tumbuhnya budaya inovasi di pemerintahannya. Berikut kunci Banyuwangi jadi kabupaten paling inovatif.
Banyuwangi sejak 10 tahun terakhir bahkan lebih, menjadi daerah yang kerap kali menelurkan inovasi baru. Tidak kurang dari 207 inovasi yang kini telah tercetus.
Semua itu untuk kepentingan dan memudahkan layanan kepada masyarakat. Catatan pentingnya, adanya inovasi itu bukan hanya sekedar trend tapi terintegrasi dan melibatkan partisipasi warga.
BACA JUGA:Upaya Pemenangan Ganjar, PDIP Blitar Nobar Debat Capres di 248 Posko
Beberapa contoh inovasi yang tampak simpel namun begitu mengena dampaknya. Salah satunya inovasi dalam penanganan stunting.
Dua contoh inovasi dalam hal ini adalah penanganan stunting dengan menggunakan basis teknologi digital. Melalui inovasi ini mengintegrasikan digital ataupun non-digital.
Data stunting, kebutuhan untuk intervensi untuk stunting bagi baduta semua ada dalam satu tempat bernama aplikasi Smart Kampung.
“Dari sini, warga dapat berpartisipasi aktif untuk turut melakukan penanganan maupun pengawasan terhadap stunting,” jelas Ipuk.
Kedua ada Laskar Sakinah. Kali ini mengetengahkan inovasi penanganan stunting dengan pola partisipasi. Pemda setempat berkolaborasi dengan penjual sayur keliling.
Mereka diberikan mandat untuk memberikan informasi, sekaligus menjadi petugas pengantar makanan bergizi bagi warga. Khususnya bagi ibu hamil risiko tinggi dan balita stunting.
BACA JUGA:Warung di Desa Kutorejo Mojokerto Terbakar
Bahkan, dari penguatan budaya inovasi yang terintegrasi, partisipatif tersebut dan berdampak dan berkorelasi dengan sejumlah pencapaian. Di antaranya adalah peningkatan pendapatan perkapita masyarakat. Dari Rp 49,99 juta di tahun 2021, kini naik menjadi Rp. 53,87 juta di 2022.
Sama halnya dengan kemiskinan. Berdasarkan data BPS, kemiskinan di Banyuwangi pada 2022 berkurang dari 8,07 persen menjadi 7,34 persen di 2023; sudah lebih rendah dibanding era sebelum pandemi Covid-19. (Rin/Aje)






