Malang (beritajatim.com) – Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) Malang tampak indah ketika sore hari. Dua badan jembatan dari arah berlawanan dihiasi lampu warna-warni beradu kontras dengan warna besi dan aspal.
Kendaraan tak pernah sepi, bahkan menjelang tengah malam. Namun, jembatan yang dibangun pada tahun 1988 acap menjadi tempat penuh misteri. Bahkan, baru-baru ini seorang pria bernama Tito Johani nekat bunuh diri dengan melompat dari atas jembatan.
Insiden pada 26 Mei 2023 lalu itu bukan yang pertama. Sebelumnya PW (19), pria Kecamatan Turen, Kabupaten Malang pernah terjatuh ke jurang dari atas Jembatan Suhat. Peristiwa yang menyebabkan korban luka memar dan patah bagian kaki itu terjadi pada 5 Juli 2021 lalu.
Tak berhenti di situ beberapa bulan pasca orang terjatuh, ada pemuda berinisial MN (22), warga Kecamatan Dau, Kabupaten Malang nekat hendak bunuh diri. Beruntung ada petugas yang ada di sekitar lokasi berhasil menggagalkan upaya yang berlangsung pada 1 September 2021 itu.
Suka atau tidak, jembatan suhat dari hari ke hari tampak semakin renta. Jembatan yang merupakan akses utama menuju daerah Dinoyo dari arah Malang utara semakin lelah menahan laju padatnya kendaraan di kota Malang. Arus kendaraan begitu padat dari Jalan Suhat dengan pertemuan antara Jalan Mayjend Panjaitan dan Jalan MT Haryono memang selalu ramai.
Salah seorang warga yang melintas, Angga asal Sukun, mengaku suasana jembatan Suhat biasa saja saat siang hari. Namun, suatu ketika dia pernah melintas di jembatan itu malam hari suasananya sedikit berbeda.
“Lek bengi ancen bedo (kalau malam memang beda). Apalagi setelah kejadian itu. Pas malem sepi. Sebelum kejadian itu (bunuh diri) pas tengah malam saya pernah melintas auranya memang beda,” kata pria yang saat ditemui memakai baju warna biru itu, Senin (29/5/2023).
Baca Juga:
https://beritajatim.com/peristiwa/nekat-bunuh-diri-lompat-dari-jembatan-suhat-aksi-tjs-sempat-digagalkan-tahun-lalu/
Hal serupa disampaikan oleh Fiki, warga kecamatan Pakis yang melintas dari arah Jalan Suhat hendak ke menuju ke Dinoyo. Ia mengaku sering lewat di jembatan suhat saat siang hari.
“Kalau siang hari saya sering lewat. Kalau malam hari dulu sempat beberapa kali. Tapi sekarang sudah jarang. Ya kalau malam memang suasananya agak beda,” ujar pria yang mengendarai motor Verza dan nampak buru-buru saat diwawancarai.
Mahasiswa asal Jakarta, Faris juga mengomentari terkait mistisnya jembatan suhat. Ia mengaku sedikit takut kalau pulang malam dari kampus Universitas Brawijaya, Malang.
“Saya kos di daerah Sudimoro. Kalau pulang dari UB malem sekarang mikir-mikir, biasanya pulang sore terus. Kejadian bunuh diri kemarin itu sedikit meningkatkan aura tak enak di jembatan sebelah ini,” ujarnya saat ia bersantai di Alfamart samping Mie Kober jalan Suhat.
Lokasinya yang berada pas di pertigaan dan lampu merah membuat jembatan ini penuh dengan lalu-lalang kendaraan. Secara material konstruksi jembatan ini dibangun dengan baja, 35 tahun lalu. Saat melintasi kawasan ini, terutama akhir-akhir ini pasca kejadian bunuh diri rasa campur aduk kerap merasuk.
Ada sensasi bergidik dengan aura menelusup ke dalam batin. Bangunannya juga terasa bergetar ketika melintasi jembatan renta ini. Ketar-ketir bahkan mungkin ada sebersit rasa takut.
Beberapa waktu lalu, jembatan suhat dilakukan uji forensik oleh tim Universitas Brawijaya (UB). Tim yang diketuai Ir. Sugeng P. Budio dari jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UB menemukan, lendutan kelengkungan mencapai 18,7 sentimeter.
Lendutan ini tidak sesuai dengan batas maksimal yaitu 6 sentimeter. Selain itu, baut sambungan jembatan banyak yang bengkok. Hingga hari ini jembatan Suhat masih digunakan warga Malang. Meski begitu, belum ada renovasi mendasar yang dilakukan oleh pemerintah setempat. (dan/ted)






