Peristiwa

Cerita RA Kartini Ingin Belajar ke Mojowarno Jombang

RA Kartini (foto/wikipedia)

Jombang (beritajatim.com) – Mojowarno adalah pemukiman lama di Kabupaten Jombang. Kawasan ini merupakan pusat agama Kristen sejak zaman Belanda. Bangunan bercorak Belanda hingga saat ini masih kokoh berdiri.

Makam orang-orang Belanda juga masih ada di Kecamatan Mojowarno. Yang tidak kalah penting, ada dua bangunan lama yang hingga kini masih berfungsi. Yakni GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) dan RSK (Rumah Sakit Kristen) Mojowarno. Kedua tempat tersebut peninggalan zaman Belanda.

Hal itulah yang membuat RA Kartini ingin belajar ilmu kebidanan di Rumah Sakit Mojowarno. Sebagaimana terungkap dalam surat-surat RA Kartini yang ditujukan untuk sahabatnya di negeri Belanda. Namun hingga akhir hayatnya, keinginan Kartini untuk belajar ke Mojowarno itu bertepuk sebelah tangan, Keluarga RA Kartini tak merestui.

Abdul Rasjid dalam Cahaya Itu Terbit dari Mojowarno (2018) menjelaskan, pembangunan Rumah Sakit selesai dan diresmikan pada 6 Juni 1894. Rumah sakit itu dinamakan Zendings Ziekenhuis te Mojowarno (Rumah sakit Zending di Mojowarno), setelah kemerdekaan namanya diganti menjadi Rumah Sakit Kristen Mojowarno.

Salah satu bidan pertama di Rumah Sakit Zending Mojowarno adalah Mbah Jasni. Mbah Jasni berteman baik dengan RA Kartini, komunikasi mereka melalui surat menyurat dan Mbah Jasni mendapat hadiah sepatu slop dari RA Kartini.

Pendidikan jururawat dan bidan di Rumah Sakit Kristen Mojowarno menarik perhatian RA Kartini. Akhirnya pada tahun 1899 RA Kartini berkunjung ke Mojowarno. Ia diantar oleh ayahnya (Bupati Jepara) dan saudara ayahnya (Bupati Demak).

Setelah kunjungannya ke Mojowarno, RA Kartini menulis surat kepada Nyonya Abendanon, tertanggal 30 September 1901, dengan judul surat: “Cita-Cita Mengawang-Awang, Di Mana Ijin Bapak?”. Ketertarikannya menjadi dukun beranak (bidan), tertuang dalam surat itu,
antara lain berbunyi :

“Dari Bapak, kami telah mendapat izin pergi ke Mojowarno akan belajar jadi dukun beranak, bila sekiranya jalan iain tertutup bagi kami. Keluarga lainnya sekali-kali tiada senang, pekerjaan jadi dukun beranak itu terlalu hina akan dikerjakan oleh tangan bangsawan ini! Engkau tentulah mengerti, kami sendiri tiada peduli hinaan itu, akan tetapi akibatnya juga kami perhatikan. Kami hendak merintis jalan, supaya perempuan jawa bebas dan berdiri sendiri !’

Sumber lain menyebut, Kartini juga sempat menulis bahwa dirinya meminta izin kepada ayahnya untuk belajar kebidanan ke Rumah Sakit Mojowarno. Ayahnya hanya bisa menjawab dengan pelukan erat, yang oleh Kartini dibilang “Matanya kembali menyorotkan penderitaan jiwa, namun telinga saya tak mendengar penolakan.” Tapi, malam itu juga, ayahnya jatuh sakit lagi hingga September. Kartini tak pernah pergi ke Mojowarno. Pada Desember giliran Kartini yang sakit.

“Setiap tahun, di Jawa atau seluruh Hindia Belanda ini rata-rata 20 ribu orang perempuan mati saat melahirkan. Tiga puluh ribu anak lahir meninggal karena perawatan bagi ibu melahirkan yang masih kurang memadahi. Jadi, masih tersedia peluang yang terbuka bagi kami untuk berbuat baik dan berjasa bagi saudara kami sesama perempuan,” tulis Kartini.

Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja mengungkapkan, pada 1902 Kartini masih memiliki keinginan menggebu untuk berangkat ke Mojowarno. Keinginan Kartini untuk pergi ke Mojowarno dipicu oleh kekecewaan terhadap ayahnya. Ketika itu Kartini mendapatkan tawaran dari sebuah majalah yang progresif untuk mengisi tulisan setiap 14 hari sekali.

Majalah di Belanda itu ingin memberi sumbangsih untuk wanita Jawa. Sehingga orang-orang Belanda memiliki pandangan lebih baik terhadap rakyat Jawa. Kartini tertarik dengan tawaran tersebut. Namun demikian, Kartini menyadari dirinya harus mendapatkan izin dari sang ayah. Sayangnya, izin itu tidak diberikan oleh ayahnya.

Surat yang berisi curahan hati Kartini itu tertanggal 5 Maret 1902 dan dikirimkan untuk sahabatnya yang berkebangsaan Belanda, Estella Zeehandelaar. Dala surat lainnya bertahun sama, Kartini menumpahkan rasa kecewanya. Begini isi surat tersebut;

“Benarkah kau menganggap Mojowarno mengerikan? Coba, apakah yang lebih baik, menjadi gila di rumah ini, atau mencari pengobatan bagi luka-luka jiwa kami dengan suasana cinta sesama? Ke sana jugalah perginya, kalau keinginan-keinginan kami tidak bisa dipuaskan, jadi tidak lebih lama lagi kami terkungkung, terkurung oleh kekerdilan-kekerdilan dan kedangkalan-kedangkalan jiwa….”

Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879. Dia lahir dari keluarga priyayi Jawa, ayahnya merupakan Bupati Jepara yang bernama Raden Mas Sosriningrat, sedangkan ibunya bernama M.A. Ngasirah yaitu putri anak dari seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Hari lahirnya itulah yang saat ini diperingati sebagai Hari Kartini. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar