Surabaya (beritajatim.com) – Ada beberapa faktor yang dianggap cocok oleh pengamat jika Erik Ten Hag pindah Old Trafford. Gelar yang ia raih bersama Ajax sebenarnya bisa jadi acuan. Namun hal ini belum cukup untuk jadi faktor penentu kepindahan Ten Hag ke Manchester United.
Ajax jauh berbeda daripada United, begitu juga liga Belanda dengan Liga Inggris. Ten Hag memang dua kali membawa Ajax juara di tahun 2019 dan 2021 dan juga tahun 2020 saat liga diberhentikan karena pandemi.
Selain itu, mungkin yang paling menonjol dari sang pelatih berhasil bawa Ajax kembali ke semifinal liga Champions di musim 2019, hal itu jadi yang pertama kalinya sejak 1997.
Namun, ada beberapa faktor yang dianggap pakar sepak bola Ten Hag cukup pas sebagai pelatih baru Man United. Berikut ini ulasannya.
Percaya Para Pemain Muda
Ten Haag dikenal sebagai pelatih yang percaya kekuatan anak muda.Sebut saja Donny van de Beek, Sergino Dest, juga beberapa lainnya yang menimba ilmu di akademi selama bertahun-tahun ia beri kesempatan untuk bermain.
Namun lain halnya dengan visi bisnis Ajax yang hobi menjual pemain, tentunya para pemain itu muda tersebut dijual ke klub lain.
Sementara, visi Manchester United yang saat ini sangat haus gelar. Bisa jadi Ten Hag mungkin harus berpikir keras untuk memberi kepercayaan pada anak muda United.
Bermain Atraktif, dan Murid Pep Guardiola
Daya tarik utama Ten Haag yang jadi perbincangan dan pertimbangan untuk jadi pelatih Manchester United yaitu gaya bermain yang ia anut. Dengan gaya bermain menyerang, penuh pressing tempo yang sangat tinggi. Ia menampilkan sepakbola atraktif.
Strategi ini memang sedang banyak dipakai di kalangan para pelatih sukses sepak bola saat ini. Ia juga pernah satu tim bersama Guardiola di Bayern Munich saat Ten Hag melatih Bayern Munich II. Banyak yang berpandangan apa yang dilakukan Ten Hag adalah hasil ia menyerap ilmu dari Pep Guardiola
Hati-Hati Karena Ada Kemiripan Sama Solskjaer
Ex manajer Ajax Aad De Mos tapi mewanti-wanti jika Ten Haag akan jadi 11-12 dengan Solskjaer. “Ten Haag tidak pernah mengganti tim yang dianggap sebagai tim utama yang ia miliki.
Itu kritik yang sama yang diberikan pada Solskjaer saat memainkan maguire, shaw dan rashford terus menerus. Itulah yang membuat Ajax tersingkir dari Liga Champions karena kalah dari Sporting.” ungkap De Mos. (dan/ian)






