Surabaya (beritajatim.com) – Sudah jadi rahasia umum jika ada banyak pelatih hebat dulunya adalah mantan pemain yang berposisi sebagai gelandang. Ada nama-nama besar seperti Pep Guardiola, Antonio Conte, Diego Simeone, Zinedine Zidane, hingga Gerard.
Semua pemain itu adalah seorang gelandang handal pada masanya. Saat ini, nama-nama itu sudah pernah sukses sebagai seorang pelatih. Lalu, apa alasannya banyak sekali mantan gelandang yang kemudian melanjutkan karir sebagai pelatih?
Karena banyak maka bisa dipastikan itu bukanlah suatu kebetulan belaka. Ada beberapa alasan yang melandasi fenomena ini.
Alasan pertama, perlu dipahami jika pemain berposisi gelandang selalu punya peran penting sebagai otak permainan tim.
Meski secara umum peran pemain tengah terbagi tiga (gelandang bertahan, gelandang tengah, dan gelandang serang), namun tugas dan fungsinya tetap vital sebagai pengatur ritme dan pola permainan.
Alasan kedua, berperan sebagai otak dari permainan. Gelandang juga harus mengetahui dimana keberadaan rekan satu tim setiap waktu. Baik itu kiper, bek, sayap, atau penyerang, semuanya harus selalu masuk dalam radar seorang gelandang sehingga aliran bola bisa dilakukan secara cepat.
Alasan ketiga, gelandang juga dituntut punya skill yang komplit. Gelandang haruslah tepat dalam melakukan tekel pada pemain lain. Gelandang juga mesti bisa membaca permainan lawan, memberi umpan pendek maupun panjang
Alasan keempat, punya peran melakukan penetrasi, bahkan harus bisa mencetak gol. Sebagai pemimpin yang mengkoordinir permainan, kondisi fisik seorang gelandang juga harus lebih prima.
Satu hal yang pasti , peran sebagai otak permainan yang sering diemban seorang gelandang, setidaknya sangat berpengaruh besar dalam karir kepelatihan saat sudah gantung sepatu.
Meski tugas di dalam dan di luar lapangan berbeda jauh. Namun otak permainan seorang gelandang masih sangat bisa diandalkan bahkan saat meniti karir sebagai pelatih yang berada di sisi lapangan hijau.
Seorang gelandang sepertinya memang punya DNA pelatih. Kompleks tidak hanya skill, tapi pemikiran dan daya permainan. Sehingga tidak ayal jika banyak gelandangan kemudian menjadi pelatih top dunia. (dan/ian)






