Ponorogo (beritajatim.com) – Bayi dan balita rentan terkena pneumonia atau radang paru-paru yang diakibatkan oleh bakteri. Butuh upaya nyata untuk mencegah meningkatnya kasus pneumonia ini. Salah satu usaha yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo, dengan vaksinasi Pneumokokus Konyugasi Vaksin (PCV). Dinkes Ponorogo menarget vaksinasi PCV tahap satu dan dua bisa tuntas pada akhir tahun ini. Sasarannya, semua bayi yang lahir mulai bulan April 2021.
Untuk mensukseskannya, ada strategi yang dilakukan oleh dinas yang berkantor di Gedung Terpadu Jalan Basuki Rahmat itu. Yakni strateginya dengan membarengkan pemberian vaksin PCV 1 dan 2 bersama imunisasi DPT pertama (usia bayi 2 bulan) dan DPT kedua (usia bayi 3 bulan).
“Kami menargetkan imunisasi PCV bisa menyentuh semua bayi yang lahir mulai bulan April 2021. Kami targetkan akhir tahun 2021 selesai,” kata Kabid Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Ponorogo drg. Heni Lastari, Jumat (5/11/2021).
Heni menjelaskan bahwa imunisasi DPT adalah imunisasi untuk dipteri pertusis dan tetanus. Imunisasi DPT adalah imunisasi rutin dari pemerintah untuk bayi baru lahir. Diberikan pada usia bayi 2 bulan, lalu 3 bulan dan 4 bulan. Sedangkan vaksin PCV adalah vaksin yang baru dirilis, awalnya di 8 Kab/Kota di Jawa Timur pada Juni 2021. Prosedurnya diberikan pada bayi usia 2 bulan, 3 bulan dan 12 bulan. Dari kesamaan waktu itu (usia 2 dan 3 bulan), maka Dinkes Ponorogo akan membarengkan dengan pemberian imunisasi DPT. “Untuk yang usia 12 bulan, nanti diberikan sesuai jadwal yang disusun oleh para bidan desa dan posyandu,” ungkap Heni.
[berita-terkait number=”5″ tag=”vaksin”]
Sementara itu, hasil laporan puskesmas dan polindes di Ponorogo hingga bulan Oktober 2021, tercatat ada 925 kasus pneumonia pada balita. Sedangkan pada 2020, ada 1.703 kasus pneumonia pada balita. Angka itu menurut Heni cukup banyak. Sehingga harus ada upaya segera untuk mencegahnya.
Dia menyebut jika imunisasi PCV di Ponorogo sudah dimulai sejak bulan Juni lalu. Sesuai dengan program introduksi (pengenalan) vaksin PCV di 8 Kab/Kota di Jatim. Dimana program introduksi ini dirilis oleh Menteri Kesehatan Budi G Sadikin pada Juni 2021 lalu. Untuk data capaiannya di bumi reyog, tahap 1 sekitar 18,04 persen dan tahap 2 diangka 10,02 persen.
“Yang ketiga belum. Hasilnya cukup lumayan, masyarakat menyambutnya dengan antusias. Sebab, kalau suntik sendiri, harganya hampir Rp 1 juta,” terang Heni.
Terkait vaksin PCV yang digratiskan pemerintah ini, Heni menceritakan kejadian menarik. Yakni seorang ibu kurang percaya dengan vaksin PCV dari petugas puskesmas. Ibu itu pun memilih vaksin PCV di dokter spesialis. Sang ibu pun kaget karena biayanya Rp 400 ribu sekali suntik.
“Ya mungkin vaksin baru jadi kurang percaya dari penjelasan petugas. Setelah ke dokter spesialis bayarnya mahal, akhirnya milih vaksin PCV gratis di puskesmas,” ungkapnya.
Alumnus Universitas Prof. Dr. Moestopo Jakarta ini menambahkan, pihaknya akan menggiatkan sosialisasi lewat puskesmas dan lintas sektor. Juga akan memasang leaflet dan spanduk. Agar masyarakat mengetahui bahwa ada vaksin baru, yang namanya vaksin PCV. Dia berharap ibu-ibu dapat memanfaatkannya, dengan daftar ke puskesmas atau kader posyandu.
Sementara itu, Epidemiolog dari Unair Surabaya Dr dr Atik Choirul Hidajah M. Kes menjelaskan, radang paru seringkali peringkat pertama penyebab kematian pada bayi dan balita. Disusul dengan diare di posisi kedua. Atau bisa sebaliknya, diare kadang peringkat satu dan pneumonia peringkat dua.
Pneumonia adalah radang paru-paru. Penyebabnya bisa dari virus, bakteri, atau bahkan partikel dan bahan kimia. Disebut pneumonia atau radang paru karena alveoli (bagian dari paru-paru) rusak, tidak bisa bekerja optimal untuk mendapatkan oksigen. Sehingga harus kerja keras dan muncul keluhan sesak.
Faktor risiko pneumonia bakterial pada bayi lebih tinggi dibanding orang dewasa. Karena terkait sistem kekebalan tubuh anak lebih rawan dibanding orang dewasa. Polusi udara dalam ruangan, kebersihan lingkungan dalam ruangan yang kurang terjaga, adanya orang dewasa yang sakit ISPA, menjadi pemicu pneumonia pada anak.
“Sehingga perilaku hidup sehat, pemberian ASI pada bayi, menjaga kebersihan orang di sekitar bayi, menjadi salah satu cara mencegah pneumonia,” kata dr Atik yang beberapa hari lalu datang ke Ponorogo.
Para ibu, lanjut dr Atik, sebaiknya mengetahui gejala klinis anak terserang pneumonia. Agar nanti bisa segera meminta pertolongan kepada petugas kesehatan. Gejala klinis yang mudah dikenali antara lain, bila nafas bayi usia 2 bulan 60 kali per menit (nafas pendek-pendek sering), maka wajib diwaspadai. Atau disertai panas lebih dari 38 derajat celcius sebagai tanda ada infeksi. Lebih-lebih bila ada anggota keluarga yang batuk pilek. “Ini perlu diwaspadai, sebaiknya segera ke fasyankes,” saran dr Atik.
Untuk mencegah pneumonia pada bayi, selain vaksin, caranya ada beberapa. Yaitu menggunakan konsep host, agen, dan environment. Misalnya membuat host (inangnya) yakni si bayi tetap sehat dengan nutrisi cukup, ASI, dan kebersihan. Lalu membuat agen penyakitnya lemah, misalnya vaksin atau menghindari penular penyakit. “Terakhir ya menjaga kebersihan lingkungan. Salah satunya dengan cuci tangan, dan mencegah polusi di ruangan,” pungkasnya. (end/kun)






