Jember (beritajatim.com) – Sejumlah lembaga survei menempatkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam posisi di ujung tanduk dalam pemilihan umum mendatang. Muhammad Iqbal, pengamat politik dari Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyebut PPP nyaris kehilangan kepercayaan.
“Prediksi banyak survei kalau PPP dalam Pemilu 2024 bakal gagal menempatkan wakilnya di parlemen senayan itu boleh jadi benar.Sekurangnya ada dua faktor penentu utama, yaitu secara internal dan eksternal partai,” kata Iqbal, Minggu (28/5/2023).
Menurut Iqbal, secara internal, PPP nyaris mengalami distrust on virtue ethics atau hilangnya kepercayaan atas etika utama kebajikan dan kebijakan partai. Ini dipertontonkan para elit PPP kepada organ arus bawah. Kembalinya Romahurmuziy yang pernah tersangkut kasus korupsi ke jajaran petinggi partai dan keputusan elite PPP untuk berkoalisi dengan PDI Perjuangan tanpa memperhatikan benar suara akar rumput menjadi contoh substansial persoalan itu.
Dinamika internal ini memperpanjang catatan prahara internal di tubuh PPP setiap kali menjelang pemilu. Jelang Pemilu 2014, Ketua Umum Suryadharma Ali ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi karena dugaan korupsi dana haji di Kementerian Agama.
Tahun itu pula, PPP terbelah menjadi dua kubu antara Muhammad Romahurmuziy sebagai ketua umum dan Aunur Rofiq sebagai Sekretaris Jenderal dengan ketua umum Djan Faridz dan sekretaris jenderal Achmad Dimyati Natakusumah.
Kubu Muhammad Romahurmuziy berhasil memenangi pertarungan setelah kasasi Djan Faridz juga ditolak Mahkamah Agung (MA) pada 2017. Namun badai belum berujung. Jelang sebulan jelang pemilu legislatif digelar, giliran Romahurmuziy yang ditangkap KPK pada 15 Maret 2019, karena dugaan kasus jual beli jabatan.
Prahara internal terakhir menimpa Suharso Monoarfa, ketua umum periode 2020-2025. Ia diberhentikan dari jabatannya setelah terpeleset lidah soal amplop kiai yang memicu kontroversi. Posisinya digantikan Muhammad Mardiono.
PPP tak hanya harus menghadapi dinamika internal. tapi juga eksternal. “Secara eksternal, sangat jelas pemilih muda (generasi zilenial atau gen Z) akan mendominasi Pemilu 2024. Badan Pusat Statistik memproyeksikan jumlahnya bisa hampir 60 persen dari total pemilih. Perilaku elite PPP yang ‘bermasalah’ dalam dinamika internalnya berpotensi sangat memengaruhi preferensi pilihan dari zilenial,” kata Iqbal.
Iqbal menjelaskan karakter pemilih zilenial yang unik dan memerlukan perhatian khusus sekaligus serius. “Unik lantaran umumnya mereka cenderung apatis masa bodoh, bahkan mudah ragu, terlebih soal preferensi politik. Tapi mereka cenderung rasional, memiliki kemampuan multitasking, ingin serba instan meski sederhana,” katanya.
Kelompok pemilih dari kalangan zilenial ini berpotensi jadi swing voters atau pemilih mengambang daripada pemilih loyal. “Sejatinya zilenial sangat butuh suguhan sangat rasional agar makin yakin dengan pilihan politiknya,” kata Iqbal.
Iqbal tak hanya mengkritik, tapi juga menyodorkan saran bagi PPP. “Atasi sengkarut dan kemelut dinamika internal dan eksternal PPP dengan berpulang pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai,” katanya.
Iqbal mengingatkan, bahwa PPP berasaskan Islam, dengan bercirikan Ahlussunnah Wal Jama’ah. “Prinsip perjuangan PPP mengutamakan musyawarah dengan menjunjung tinggi prinsip kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Maka, demi terhindar dari ancaman distrust ketidakpercayaan dari organ arus bawah, elite PPP perlu segera membuat terobosan melalui musyawarah intensif yang partisipatif dan strategis,” katanya.
“Agenda utamanya adalah reformulasi arah dukungan politik pilpres dan restyling strategi kampanye pemilu. Jaring saja kembali beragam suara perwakilan arus bawah dengan prinsip kebenaran, kejujuran dan keadilan. Permufakatan yang diambil jadikan sebagai sikap politik yang berbasis legitimasi arus bawah. Dengan cara ini, diyakini dinamika internal PPP bakal kembali kuat punya trust value di mata arus bawah,” kata Iqbal.
Setelah kemelut kepercayaan di tubuh partai mulai teratasi dan strategi maupun materi kampanye ditata ulang, Iqbal pecaya, PPP akan lebih mudah beradaptasi dengan tuntutan rasional dari generasi zilenial. “Jika solusi itu tak berjalan lancar, prediksi banyak survei itu bisa jadi benar,” katanya. [wir]






