Surabaya (beritajatim.com) – Menjadi seorang pengacara bukanlah suatu yang mudah. Selain membutuhkan pendidikan yang tinggi dan kemampuan berkomunikasi, tuntutan memperjuangkan hak klien saat menghadapi permasalahan hukum menjadi tantangan tersendiri.
Dari sekian banyak pengacara yang ada di Surabaya, beberapa di antaranya adalah perempuan cantik yang sepak terjangnya dalam dunia hukum tak diragukan lagi. Hal ini menunjukkan kalau perempuan juga memainkan peran penting dalam praktik bidang hukum di Indonesia.
Berikut deretan pengacara di Surabaya, selain memiliki rupa cantik mereka juga tangguh dalam membela kliennya.
Deretan Pengacara Cantik Surabaya
1. Elok Dwi Kadja SH MH Cla
Menjadi seorang pengacara bagi Elok adalah sebuah passion. Gelar Sarjana Hukum (SH) yang dia raih di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya saat itu dia anggap hanya sebatas titel saja. Diapun mencoba untuk mengembangkan potensi dirinya dengan dasar ilmu hukum yang dia miliki.
“Suatu ketika, waktu saya lagi ibadah di situ ada ceramah bahwa talenta yang dikasih Tuhan itu nggak boleh kita sia-siakan. Dari situ, saya merasa bahwa SH ku ini percuma, kok rasanya SH ku ga ada gunanya,” ujar Elok.
Saat itu lanjut Elok, dia menawarkan diri menjadi volunteer di tempat ibadah untuk mengurusi legalnya. Namun, saat itu Elok yang menekuni bisnis pakaian, kemampuan hukumnya diragukan. Akhirnya dia pun bekerja di sebuah kantor pengacara.
” Berawal dari situ, saya disarakan untuk ikut Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) dan ujian Advokat dulu. Dan semua dipermudah oleh Tuhan, saya ujian sekali sudah selesai padahal waktu itu teman-teman harus ujian sampai tiga kali, empat kali dan saya sekali saja sudah selesai,” ujarnya.
Selama menjadi pengacara kata Elok, banyak pengalaman hidup yang didapat. Permasalahan hidup yang dia jumpai di lapangan mulai dari tingkat ekonomi hingga persoalan pribadi membuat Elok bisa memahami bahwa permasalahan dirinya yang selama ini dia rasa berat, ternyata masih lebih berat dan lebih kompleks masalah orang-orang yang dia jumpai.
“Sebelum jadi circle saya itu kan sedikit ya itu-itu saja, hidupku waktu itu ya stagnan begitu tidak seperti sekarang yang lebih berwarna. Sekarang jadi lebih memahami bahwa hidup itu tak sekotak yang aku kira selama ini,” ujarnya.
Elok yang hobi menembak dan main golf ini tidak memungkiri bahwa wajah cantik yang dia miliki memang berpengaruh besar dalam menjalankan kariernya, bahkan ada sebuah corporate memilih dirinya menjadi legal in house hanya karena wajah Elok yang cantik. Dengan harapan, jika Elok masuk ke sebuah instansi maka akan lebih mudah jika mengurusi perijinan.
Namun, dengan wajah yang cantik ini juga tak sedikit orang yang meremehkan dirinya bahwa dia hanya bermodalkan wajah tapi tidak melihat dari kemampuan yang dia miliki.
“Mereka kalau belum pernah melihat profil aku atau belum bekerjasama dengan aku pasti akan bilang emang orang ini bisa kerja kah? Namun begitu mereka bekerja dengan aku, dan aku dikasih job desk dan aku mampu mengerjakan dengan tuntas, baru mereka percaya,” ujarnya Elok yang berkantor di gedung bumi mandiri tower 2 lantai 12 jalan Panglima Sudirman 66-69 Surabaya ini.
Menghadapi hal-hal yang tidak mengenakkan saat di lapangan bagi Elok yang juga seorang single parent ini dapat diantisipasi dengan kinerja yang bagus dan profesional.
2. Vena Naftalia SH
Wanita kelahiran 15 Februari 1981 ini berkecimpung di dunia pengacara sejak enam tahun lalu, tepatnya tahun 2016. Dia memilih menjadi seorang pengacara karena tantangan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
“Menjadi seorang pengacara itu kita dituntut berpikir kritis secara logika, dan meningkatkan daya pikir agar semakin cerdas, tanggap dan kritis ketika membangun materi suatu perkara,” ujar Vena.
Selama menjadi seorang pengacara, Vena juga tak luput menghadapi kejadian yang tidak masuk di nalar dan hati nurani. Tapi dia tetap berusaha profesional dan tetap bekerja pada kontruksi hukum yang ada.
“Contohnya ketika menghadapi lawan yang merasa hebat, punya jaringan serta lobi yang kuat, namun saya percaya pada akhirnya kebenaran dan keadilan lah yang menang,” ujar wanita hobi traveling ini.
Vena yang berkantor di Pakuwon Center jalan Embong Malang Surabaya ini berharap agar dalam menjalankan profesi dia tetap bisa menjaga Marwah dan bisa menjadi bagian dari penegak hukum yang profesional.
Vena tidak memungkiri saat menjalankan profesinya, banyak orang yang meremahkan dirinya. Tak sedikit juga yang berusaha membelokkan materi perkara ke hal lain yang tidak masuk akal. Namun, hal itu tak membuat dia patah arang. Berbekal dari kemampuan yang dia miliki, dia berusaha menjelaskan secara detail dan mengkomunikasikan dengan baik.
” Dari situ akhirnya mereka diam dan bisa memahami,” ujarnya.
3. Tasaufi Ariefzani SH
Wanita yang kerap disapa Ufi ini resmi menjadi pengacara pada Januari 2022 lalu ini memilih menjalani profesi sebagai seorang pengacara karena itu adalah cita-citanya sejak kecil. Selain itu, pengalaman hidup orangtuanya yang kerap diperlakukan tidak adil secara hukum membuat dia semakin semangat untuk menerjuni profesi ini.
“Orangtua saya yang dulu saat saya belum bisa apa-apa banyak mengalami kejadian yang tidak adil, makanya sekarang saya ingin menjadi pembela orang-orang yang membutuhkan pendampingan hukum,” ujarnya.
Masih kata Ufi, selama menjadi pengacara dirinya merasa bangga dengan dirinya sendiri karena bisa banyak belajar dari problem solving dari masalah klien yang bisa diterapkan ketika menghadapi masalah pribadi.
Ufi yang memiliki hobi main game dan jalan-jalan ini tak menampik, kadang dia juga diremehkan oleh aparat penegak hukum lain. Dari situ dijadikan semangat bahwa dirinya bisa bekerja secara profesional dengan kemampuan hukum yang dia miliki.
Selain ini lanjut Ufi yang berkantor di Jalan Pacar Kembang Tengah no 21 Surabaya ini, hal yang berkesan selama menjabat sebagai pengacara adalah ketika menangani perkara perceraian. Akar masalah yang akhirnya menjadi pasangan bisa bercerai dijadikan pelajaran bagi dia yang statusnya saat ini masih singgle.
” Saya kan masih singgle ya, jadi bisa belajar juga dari masalah tersebut,” ujar gadis kelahiran 16 Mei 1991 ini.
4. May Cendy Aninditya Wills Putri SH MM
Setahun berkecimpung di dunia pengacara membuat wanita cantik ini merasa masih banyak belajar ilmu hukum di Indonesia. Cendy yang jebolan Sarjana Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta ini menyadari dengan masuk dunia lawyer maka berbagai tantangan akan dia hadapi.
Setiap perkara yang ditangani sangat mengesankan bagi wanita yang berkantor di Taman Rivera Regency E6 Surabaya ini, sebab dari setiap perkara tersebut, memiliki masalah berbeda dan bisa dia jadikan pengalaman baru.
” Hal yang menyedihkan adalah saat menangani perkara dimana ada anak dibawah umur yang dicabuli oleh ayah kandungnya, disitu perasaan campur aduk antara miris dan nggak tega. Namun sebagai seorang pengacara kita harus profesional dan mengesampingkan ego kita,” ujar Cendy yang hobi Traveling ini.
Cendy yang mendapat gelar S2 Magister Manajemen dari STIE Mahardika ini tak memungkiri, saat dia menjalankan profesinya maka banyak godaan yang datang padanya. Parasnya yang cantik membuat aparat penegak hukum yang lain pun sering menggodanya. ” Tapi ya semua bercandaan saja, jadi saya sih cuek saja,” ujar Cendy. [Uci/beq]










