Bojonegoro (beritajatim.com) – Pegiat lingkar Studi Ekologi dan Energi Terbarukan (SUKET) Indonesia menyayangkan program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro yang melakukan penebangan pohon penghijauan secara besar-besaran.
Penebangan pohon dilakukan seiring pembangunan trotoar dan drainase. Pembangunan trotoar dan drainase tahun anggaran 2023 akan dilakukan di Jalan Basuki Rahmad, Jalan Hasyim Asy’ari, Jalan Dr Cipto, Jalan Teuku Umar dan Jalan Pahlawan
Pegiat SUKET Indonesia, Rarandra menyayangkan dengan adanya penebangan pohon pengayom yang dilakukan tanpa mempertimbangkan segi prioritas. Menurutnya, pohon peneduh yang ada di Jalan Pahlawan tidak seharusnya ditebang dengan alasan perbaikan drainase.
Meski sifat drainase tersebut saling terhubung antarsatu dengan yang lain, tetapi di kawasan Alun-alun Bojonegoro dinilai tidak menghambat laju air. Selain itu, kawasan tersebut termasuk dataran tinggi dan tidak termasuk rawan banjir.
“Penebangan pohon penghijauan untuk pembangunan drainase seharusnya difokuskan pada aliran daerah yang rawan banjir,” ujarnya, Jumat (16/06/2023).
Untuk diketahui, beberapa pohon pengayom jenis Angsana yang ada di sekitar Alun-alun Bojonegoro, tepatnya di depan Kantor Bakorwil sudah habis ditebang. Pohon berusia sekitar 50 tahun lebih itu dibabat untuk proyek revitalisasi drainase dan trotoar.
Pembabatan pohon penghijauan untuk pembangunan drainase sebelumnya juga sudah dilakukan hampir merata di kawasan kota. Pohon peneduh kemudian diganti dengan jenis Tabebuya dan Pule yang berfungsi mempercantik wajah kota.
Pembabatan pohon penghijauan itu juga berpengaruh terhadap berkurangnya kawasan penghijauan yang berdampak pada pengurangan kualitas udara. Buruknya kualitas udara salah satunya menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga terutama bagi kelompok rentan. “Kami berharap pembangunan yang dilakukan Pemkab Bojonegoro lebih ramah terhadap lingkungan,” imbuhnya.
Mengutip laporan Global Alliance On Health And Pollution (GAHP), jumlah kematian akibat polusi udara di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 123,754 jiwa, menempati urutan keempat dunia setelah negara Pakistan dengan angka kematian sekitar 128,005 jiwa.
Kemudian, negara India di urutan ke-2 dengan angka kematian sekitar 1,240,529 jiwa, dan disusul negara China yang menempati urutan pertama di dunia, dengan angka kematian sekitar 1,242,987 jiwa. “Beberapa hasil riset bahkan menunjukkan, tingkat kematian akibat polusi udara ini lebih besar ketimbang tingkat kematian yang disebabkan penyakit HIV/AIDS, malari, TBC, narkoba, dan alcohol,” pungkasnya.
BACA JUGA:
Kadin PU SDA Bojonegoro Dimutasi, Tinggalkan PR Bendung Gerak Karangnongko
Karena itu, ia berharap agar pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah, memiliki perhatian serius terhadap persoalan polusi udara yang disebabkan oleh materi partikel polutan, seperti Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro Dandi Suprayitno mengatakan, penebangan pohon penghijauan di sekitar kota itu dengan jumlah di Jalan Basuki Rahmat, sebanyak 142 pohon, Teuku Umar 409 pohon, Jalan Pahlawan 66 pohon dan Jalan Hasyim Asy’ari sebanyak 26 pohon. [lus/kun]






