Surabaya (beritajatim.com) – Pakar Psikologi Forensik Ubaya Prof Yusti Probowati menilai kasus kenakalan remaja kian mengkhawatirkan. Itu menyusul terbongkarnya kematian siswi SMP di Surabaya yang dibunuh oleh dua orang yang masih berstatus sebagai pelajar.
Yusti mengatakan, selain hukuman pidana, diperlukan juga adanya pendampingan psikologi bagi para pelaku. Pasalnya, permasalahan ada dalam diri anak tersebut. Yakni, bagaimana norma dan pengendalian diri tidak jalan.
“Keprihatinan ini yang membuat saya membentuk lembaga terapi di daerah Jombang. Mereka direhabilitasi, diajari menghadapi persoalan tidak dengan agresi, menyelesaikan masalah dengan berkomunikasi, membuatkan peraturan. Didampingi 24 jam. Diajari norma dan aturan day by day ini yang harus dilakukan untuk kasus kenakalan remaja yang mengarah pada kriminalitas,” ungkapnya, Rabu (10/5/2023).
BACA JUGA:
https://beritajatim.com/hukum-kriminal/kriminolog-ubaya-duga-kasus-pembunuhan-siswi-smp-di-kedung-cowek-faktor-gaya-hidup/
Namun Yusti menyayangkan, sebab di lapas anak tidak ada psikolognya. Pendampingan hanya menyediakan
rehabilitasi sekolah dan rehabilitasi sosial rehabilitasi. Sementara rehabilitasi psikologi tidak ada.
“Ini saya teriak ke Dirjen Kemsyarakatan. Psikolog harus dilibatkan dalam persoalan kayak gini karena sebabnya adalah dari keluarga yang menyebabkan gangguan psikologis. Berarti harus ada intervensi atau rehabilitasi psikologi. Sayangnya itu tidak ada,” katanya.
Karena itu, untuk mengantisipasi kenakalan remaja ini, Prof Yusti menyebut bahwa peranan keluarga menjadi penting. Sebab, persoalan mendidik anak tidak sekedar mencukupi makanannya, menyediakan pendidikan dan tercukupi ekonomi. Yang lebih penting justru kebutuhan psikologis anak.
“Kalau urusan kriminal yang diatur adalah aturan. Anak-anak harus diajar, didik, dan dipahami bahwa hidup ini harus ada aturan dimanapun berada. Anak menjadi kriminal atau tidak ini juga bergantung kepada lingkungan,” jelasnya.
Orang tua, lanjut dia, harus mendidik anak dengan disiplin. Di antaranya dengan menerapkan aturan agar anak terlatih. Kemudian, pengelolaan emosi.
“(Pengelolaan emosi) ini model bentuk emosional dari orang tua. Jika orangtua mengajarkan penyelesaian masalah dengan baik-baik ini dimodel dengan anak. Dia harus belajar tentang itu. Jika tidak bisa mengelola maka larinya ke perilaku agresif,” tandasnya. [ipl/kun]






