Pendidikan & Kesehatan

Kota Mojokerto Kembali Masuk Zona Merah

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari saat memberikan keterangan pers di hadapan awak media di Rumah Rakyat. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Kota Mojokerto kembali menyandang status sebagai zona merah atau zona risiko tinggi penularan Covid-19. Ini lantaran kondisi wilayah Kota Mojokerto yang diapit daerah-daerah besar, membuat peningkatan pada jumlah kasus positif Covid-19 terus bertambah.

Perubahan zona oranye menjadi zona merah per tanggal 28 Juli 2020 kemarin, tidak lepas dari indikator yang ditentukan oleh Gugus Tugas Nasional. Yakni meliputi, jumlah kasus confirm yang ditemukan sebanyak 38 kasus, jumlah kasus baru probable sebanyak 12 kasus.

Jumlah confirm meninggal dua kasus, sedangkan jumlah kasus probable yang dirawat di rumah sakit tidak mengalami penurunan lebih dari 50 persen. Secara langsung Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari menyampaikan konferensi pers di hadapan awak media di Rumah Rakyat, Rabu (29/7/2020).

“Menyikapi perkembanga terkini Covid-19 di Kota Mojokerto, patut menjadi perhatian kita bersama. Bahwa saat ini, kota kita kembali menyandang status sebagai zona merah atau zona dengan resiko penularan tinggi. Meskipun gambaran pada peta menunjukkan merah, namun angka kesembuhan Covid-19,” ungkap Ning Ita (sapaan akrab, red).

Per tanggal 28 Juli 2020, jumlah pasien sembuh mencapai 175 kasus dari 227 kasus atau sebanyak 77,1 persen. Kendati Kota Mojokerto kembali menyandang status sebagai zona merah, namun Wali Kota perempuan pertama di Mojokerto ini terus melakukan berbagai upaya dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Mulai dari penyemprotan disinfektan di area terdampak Covid-19, tracing dan tracking untuk menemukan dan melokalisir penyebaran virus, testing melalui pemeriksaan rapid test serta pengadaan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR). Selain itu, upaya pencegahan lainnya melalui edukasi dan sosialisasi.

“Baik lewat media sosial, baliho, kampanye, penyuluhan ke masyarakat hingga pemutaran rekaman yang isinya tentang himbauan protokol kesehatan di 118 tempat ibadah dan 18 pondok pesantren. Sedangkan untuk penangananya, selama ini kami telah menyediakan ruang isolasi di seluruh RS berdasarkan SDM dan sarana prasarana,” jelasnya.

Tidak hanya itu, lanjut Ning Ita, Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto juga memberikan probiotik bagi warga yang terindikasi Covid-19, menyediakan ruang observasi di Rusunawa dan Balai Diklat, membentuk tim pemulasaraan jenazah serta menyediakan lahan pemakaman khusus Covid-19.

“Upaya tersebut, tentunya juga dibarengi dengan pembuatan regulasi Perwali Nomor 47 tahun 2020 yang telah direvisi menjadi Perwali Nomor 55 tahun 2020. Bukan hanya Perwali, kami juga menerapkan zona physical distancing bagi masyarakat serta pengawasan secara ketat terhadap 17 sektor kehidupan di Kota Mojokerto,” katanya.

Pengawasan tersebut ditandai dengan sertifikat sebagai bukti kepatuhan dari Gugus Tugas. Namun, jika nantinya dari 17 sektor tersebut ada yang lali dan abai dalam menjalankan protokol kesehatan secara ketat, maka sertifikat tersebut akan kami cabut dan mereka akan diberikan sanksi tegas. Ning Ita pun mengajak seluruh masyarakat agar lebih disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan.

“Serta selalu taat dalam menjalankan peraturan yang telah diterapkan oleh pemerintah daerah melalui Perwali Nomor 55 Tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Pada Kondisi Pandemi Corona Virus Disease 2019. Mari bersama-sama melawan Covid-19, jangan lengah dan abai. Tetap patuhi protokol kesehatan dimanapun,” tegasnya.

Kota Mojokerto merupakan salah satu dari sembilan wilayah yang menyandang kembali status menjadi zona melalui pembaharuan data Covid-19 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Yakni Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kota Batu, Kota Mojokerto, Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kota Surabaya, Kabupaten Gresik dan Kota Pasuruan. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar