Pendidikan & Kesehatan

70 Persen Jamaah Haji Kota Kediri Risiko Tinggi, Harus Minum Obat

Kediri (beritajatim.com) – Mayoritas jemaah haji asal Kota Kediri masuk dalam kategori risiko tinggi. Mereka harus mendapatkan pendampingan obat-obatan dari medis karena suatu penyakit yang diderita.

Tjitjik Rahmawati, Kasi Haji Dan Umroh Kantor Kementerian Agama Kota Kediri mengatakan, jumlah jemaah haji Kota Kediri yang berangkat pada tahun ini sebanyak 262 orang. Dari jumlah itu, 70 persen dinyatakan risiko tinggi atau resti.

“Jemaah yang masuk kategori resti karena harus mendapatkan pendampingan obat. Tetapi bukan kategori sakit berat seperti stroke,” kata Tjitjik, Rabu (3/7/2019).

Masih kata Tjtitjik, para jemaah haji kini memasuki tahap bimbingan manasik haji. Mereka harus menjalani enam kali manasik di tingkat Kantor Urusan Agama (KUA) masing-masing dan dua kali manasik haji dari Kantor Kementerian Agama Kota Kediri.

Sementara itu, secara persyaratan administrasi, seluruh koper jamaah sudah dikirim dari jakarta sejak minggu lalu dan langsung didistribusikan kepada masing-masing jemaah. Selanjutnya, pada18 Juli pukul 09.00 WIB, koper jemaah sudah harus terkumpul di Kantor Kementerian Agama.

Untuk diketahui, dari sebanyak 262 orang jamaah haji tersebut terdiri dari 132 pria dan 139 wanita. Sedangkan jamaah haji paling tua berusia 77 tahun bernama Salsabila asal Kelurahan Bangsal, Pesantren. Adapun jamaah termuda adalah Mohammad Najiul, 32 tahun dari Kelurahan Lirboyo, Mojoroto.

Jemaah haji Kota Kediri masuk dalam kloter 39 yang akan diberangkatkan oleh Walikota Kediri, pada m 18 Juli pukul 17.00 WIB di Aula Muktamar Lirboyo Kediri. Selanjutnya, mereka akan diberangkatkan menuju Embarkasi Surabaya dan diterbangkan ke Madinah 19 Juli pukul 21.00 WIB. Jemaah kemudian dijadwalkan sampai ke Madinah, pada 22 Juli pukul 03.45 Waktu Arab Saudi. [nng/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar