Ponorogo (beritajatim.com) – Operasi SAR (Opsar) pencarian warga Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo Ponorogo akhirnya dihentikan. Keputusan itu diambil setelah tidak ada tanda-tanda penemuan selama pencarian. Sebelum memutuskan penghentian pencarian BPBD Ponorogo melakukan koordinasi dengan Basarnas Trenggalek.
“Pencarian bu Sri Mulyati akhirnya hentikan, sebelumnya kami sudah berkoordinasi dengan Basarnas Trenggalek terkait opsar ini,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Setyo Budiono, Selasa (5/10/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”hilang”]
Pertimbangan penghentian itu, kata Budi sapaan akrab Setyo Budiono karena bu Sri sudah meninggalkan rumah sejak tanggal 20 September 2021. Artinya, pihak keluarga baru meminta bantuan dan lapor ke pihak kepolisian saat sudah hilang kira-kira 10 hari.
Selain itu, lokasi pencarian yang berupa hutan juga luas sekali. Sehingga sulit untuk menemukan. Pencarian terakhir itu, pihaknya meningkatkan radius dari 7 hingga 10 kilometer dari titik warga melihat terakhir bu Sri, yakni di dekat hutan Desa Gedungbanteng.
“Hutan itu luas sekali, relawan bahkan sampai hutan di wilayah Magetan, tetapi nihil,” ungkapnya.
Para relawan sempat menemukan bungkusan kresek. Bungkusan itu berisi baju dan celana. Mereka mengira itu milik korban. Namun, setelah dikonfirmasi kepada suaminya, ternyata bukan milik Sri Mulyati. “Relawan sempat menemukan bungkusan baju, tetapi ternyata bukan milik korban,” kata Budi.
Saat ini, yang dilakukan oleh BPBD Ponorogo menginformasikan kehilangan itu kepada masyarakat sekitar. Yakni dengan menyebarkan pamflet. Selain itu juga melakukan pemberitahuan kepada perhutani dan kepolisian. “Ini metode pencarian juga selain opsar,” pungkas Budi.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 50 relawan dari BPBD Ponorogo dikerahkan untuk mencari warga Ponorogo yang hilang. Ya, personel yang identik dengan seragam orange itu, mendapatkan laporan adanya orang hilang di hutan Desa Gedungbanteng Kecamatan Sukorejo Ponorogo. Orang yang hilang itu bernama Sri Mulyati (37). Dia meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan keluarga sejak tanggal 20 September lalu.
“Ada informasi bahwa ada warga yang mengetahui korban berada di dekat hutan Desa Kedungbanteng pada tanggal 26 September 2021). Maka fokus pencarian hari ini di hutan tersebut,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Setyo Budiono.
Karena luasnya hutan yang menjadi fokus pencarian, personel pencarian korban itu dibagi menjadi 4 kelompok Search and Rescue Unit (SRU). Dimana dalam 1 SRU terdiri dari 8 personel. Mereka akan dibagi menjadi beberapa titik pencarian. Dengan patokan, pencarian dimulai dari saksi mata yang melihat korban pada tanggal 26 September lalu.
“Ada yang menyusuri dengan berjalan kaki ada juga yang membawa sepeda motor. Kita kasih radius minimal 500 meter hingga 1 kilometer dari titik awal pencarian,” ungkap Budi sapaan akrab Setyo Budiono.
Usai penelusuran jika masih belum ditemukan, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap pencarian tahap pertama. Hasil diskusi dari evaluasi tersebut, yang akan dijadikan tindak lanjut untuk ke depannya.
Dari informasi yang diperoleh dari pihak keluarga, Budi menyebut jika korban ini tidak pernah ke hutan. Sri Mulyati kemungkinan banyak masalah hingga menyebabkan dirinya depresi. Sehingga membuat pikirannya kosong dan korban jalan kemana-mana. “Korban kan juga takut sama orang. Ketemu orang malah menghindar,” katanya. (end/kun)






