Magetan (beritajatim.com) – Ratusan sapi di Desa Janggan, Poncol, Magetan terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PMK). Penanganan medis dari Dinas Peternakan dan Perikanan dianggap lelet oleh peternak di desa setempat membuat peternak kecewa.
Menyikapi keluhan itu, Bupati Magetan Suprawoto menyebut jika minimnya tenaga kesehatan jadi kendala untuk menangani PMK yang kini sudah tersebar di 70 desa di 18 kecamatan di Magetan. Sehingga, penanganan untuk ternak yang sakit jadi terlambat.
“Upaya kami yakni sudah membuat posko pengaduan PMK, petugas sudah turun. Hanya saja jumlah petugas terbatas sehingga pelayanan delay. Kami hanya punya 16 petugas sedang jumlah sapi yang ditangani besar dan menyebar di 18 Kecamatan dengan total per 2 Juni 2022 sebanyak 591 ternak,” katanya kepada beritajatim.com, Jumat (3/6/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”magetan”]
Kang Woto, sapaan akrab Bupati Suprawoto menyebut jika virus itu belum ada vaksinnya. Namun, para medis cara penguatan imun ternak dengan pemberian suntik vitamin kepada sapi sesuai arahan dokter hewan. Kang Woto menyebut belum ada kasus yang dilaporkan sapi yang mati akibat PMK ini berikut sapi yang dipotong paksa oleh pemilik.
Dia tak memungkiri jika wabah ini dimanfaatkan oleh sejumlah oknum untuk mengambil keuntungan dengan membeli sapi warga murah karena sakit. Kang Woto menyarankan kepada peternak jangan menjual sapi dan memilih mengobatinya terlebih dahulu hingga sembuh.
“Sapi yang kena PMK bisa sembuh bila diobati telaten. Kami menyarankan peternak jika mau menjual sapi, diobati dulu sampai sembuh agar harganya tidak anjlok,” paparnya. [fiq/but]






