Magetan (beritajatim.com) — Wakil Bupati Magetan, Suyatni Priasmoro, menyoroti masih maraknya penggunaan jebakan tikus beraliran listrik di area persawahan sejumlah kecamatan di Kabupaten Magetan.
Menurutnya, praktik tersebut tetap ditemukan meski pemerintah telah berulang kali memberikan imbauan kepada petani karena dinilai membahayakan keselamatan warga.
Suyatni mengaku kerap menemukan langsung pemasangan jebakan tikus listrik saat berkeliling ke wilayah pedesaan, terutama di kawasan pertanian Kecamatan Barat, Kartoharjo, dan Karangrejo.
“Kalau melihat di lapangan memang masih banyak yang memasang jebakan tikus setrum. Biasanya ada lampunya dan kabel berwarna-warni. Itu sebenarnya sudah jelas dilarang,” ujarnya.
Ia mengatakan pemerintah daerah bersama aparat terkait telah beberapa kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya jebakan listrik di sawah. Namun, sebagian petani tetap memilih menggunakan cara tersebut karena dianggap paling efektif membasmi hama tikus.
Menurut Suyatni, tingginya intensitas tanam padi menjadi salah satu penyebab populasi tikus sulit dikendalikan. Ia menyebut pola tanam padi terus-menerus membuat habitat tikus tetap tersedia sepanjang tahun.
Pemerintah, lanjutnya, sebenarnya telah mendorong petani melakukan pola tanam selingan, seperti bawang merah, untuk mengurangi serangan hama. Di beberapa titik di Kecamatan Barat, metode tersebut disebut mulai menunjukkan hasil karena tikus dinilai tidak terlalu mengganggu tanaman bawang.
“Teorinya memang harus ada pergantian tanaman, jangan terus-menerus padi. Misalnya diselingi bawang merah. Di beberapa desa sudah terbukti tikus tidak terlalu mengganggu tanaman bawang,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui banyak petani enggan menerapkan pola tersebut karena mempertimbangkan modal dan kemudahan budidaya padi dibanding tanaman lain.
Suyatni menilai persoalan penggunaan jebakan listrik di sawah menjadi dilema besar bagi pemerintah. Di satu sisi, pemasangan setrum jelas melanggar aturan dan membahayakan siapa saja yang melintas. Namun di sisi lain, petani merasa kesulitan mencari metode pengendalian tikus yang dianggap sama efektifnya.
“Kalau mau ditindak sebenarnya gampang karena itu melanggar aturan. Tapi apakah itu langsung menyelesaikan masalah? Intinya kembali lagi kepada kesadaran petani sendiri,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahaya jebakan listrik tidak hanya mengancam pemasangnya, tetapi juga orang lain yang tidak mengetahui keberadaan kabel setrum di area persawahan.
“Bisa saja yang terkena bukan pemasangnya, tapi orang lain, bahkan anak-anak yang tidak tahu,” ujarnya.
Suyatni menambahkan hingga kini pemerintah masih terus mencari solusi pengendalian hama tikus yang lebih aman dan efektif. Berbagai metode alternatif seperti penggunaan belerang hingga predator alami dinilai belum mampu diterapkan secara masif di lapangan.
“Teknologi yang dianggap paling mudah oleh petani memang setrum itu karena cepat dan bisa membunuh banyak tikus. Ini yang menjadi tantangan besar,” katanya. [fiq/ted]






