Ponorogo (beritajatim.com) – Pembangunan Monumen Reog Ponorogo nanti bersifat kolosal dengan tetap menonjolkan kearifan lokal. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo bakal melibatkan seniman lokal dalam pembangunan monumen setinggi 126 meter tersebut.
Namun demikian, seniman lokal ini nantinya harus sesuai dengan kriteria dan keahlian berdasarkan spesifikasi yang disyaratkan.
“Ini nanti kolosal, jadi akan melibatkan seniman lokal,” kata Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko, Jumat (16/12/2022).
Sugiri menyebut filosofi monumen ini tentu tidak akan melenceng dari budaya Ponorogo. Sehingga, meskipun desain monumen itu mengambil dari pemenang sayembara yang diadakan beberapa waktu lalu, tetap akan dimasukkan unsur Ponorogo dan kesenian Reognya.
“Negara manapun berhasil membangun berdasarkan budaya. Kita akan memulai ini,” ungkapnya.
Hal senada juga diutarakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi. Dia menyebut seniman pematung yang memiliki skill mumpuni bakal diprioritaskan untuk memberikan masukan atau saran kepada pelaksana.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Ponorogo”]
Dengan begitu, pembangunan monumen nantinya tetap akan ada unsur Ponorogo dan budayanya. Oleh karena itu, pihaknya juga tidak asal dalam menggandeng seniman yang akan ikut dalam pembangunan monumen ini.
“Bagi seniman ataupun yang memiliki keahlian dibidang ini, untuk melakukan koordinasi dengan Disbudparpora Ponorogo,” katanya.
Untuk diketahui, kontraktor pembangunan monumen dan museum Reog Ponorogo sudah dapat pemenangnya. Yakni PT Widya Satria dari Surabaya.
Pembangunan monumen yang rencananya tingginya melebihi patung Graha Wisnu Kencana (GWK) di Bali itu, menelan anggaran Rp 84 miliar dengan sistem penganggaran multiyears. Pembangunan monumen ini, lokasinya berada di Gunung Gamping di Kecamatan Sampung. [end/beq]






