Sidoarjo (beritajatim.com) – Menyelimuti duka yang mendalam atas kejadian di Stadion Kajuruhan Malang yang merenggut ratusan jiwa suporter Arema FC, Grand Final Turnamen Perseka Muda Cup XVl Piala Bupati Sidoarjo 2022, yang mempertemukan kesebelasan Perseta Tambasari Tambakrejo Kec. Waru Vs PSAP Pabean Kec. Sedati, di lapangan Kepuh Kiriman, seluruh pemain menggunakan pita hitam, Minggu (2/10/2022).
Sebelum pertandingan grand final dimulai, para pemain kedua kesebelasan yang bertemu juga mengheningkan cipta mengenang dan mendoakan bagi para korban. Hadir dalam pertandingan bergensi lintas klub lokal dan luar kota Sidoarjo itu, Bupati Sidoarjo H. Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor), Wabup Sidoarjo H. Subandi, dan seluruh kepala desa se-Kecamatan Waru.
Pertandingan kedua kesebelasan berjalan seru, sama-sama menampilkan saling menyerang sejak kick off dimulai. Hingga babak pertama usai, skor keduanya kesebelasan masih sama 0-0 tidak ada yang bisa membuahkan gol.
Menariknya jelang babak kedua berakhir, kesebelasan PSAP tampil apik dari umpan pendek hingga umpan. Para pemain semangat karena melihat kedatangan Wabup Sidoarjo H. Subandi yang berasal dari Pabean Sedati.
Selain itu, isteri Wabup Sidoarjo H. Subandi, Hj Sriatun yang datang menonton di pinggir lapangan sisi selatan, juga terus bertepuk tangan dan bersorak memberikan semangat kepada para pemain PSAP.
Tentunya, kedatangan Wabup Sidoarjo H. Subandi dan Hj. Sriatun yang juga juga Kepala Desa Pabean itu menjadi spirit dan penyemangat sendiri bagi para pemain PSAP. Dari semangat dan kekompakan dalam bermain yang dibangun, jelang babak kedua berakhir, pemain PSAP berhasil melesakkan tendangan bolanya ke jaring kiper Perseta Tambaksari Waru. Skor kedudukan 1-0 dimenangkan PSAP hingga peluit babak kedua berakhir.

Bupati Sidoarjo H. Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor) mengucapkan duka yang mendalam atas kejadian di Stadion Kanjuruhan Malang. Untuk Turnamen Perseka Muda Cup XVl tahun 2022 ini, dirinya mengapresiasi.
Gus Muhdlor juga berjanji akan terus mendukung kegiatan berolahraga di Sidoarjo, termasuk sepakbola selama masih diperbolehkan oleh FIFA pasca kejadian di stadion Kajuruhan Malang yang membawa korban ratusan suporter.
Kata Gus Muhdlor, dukungan itu diwujudkannya banyak lapangan sepakbola di tingkat desa di 18 kecamatan yang mendapatkan bantuan lampu penerangan yang standar.
Lanjut Gus Muhdlor, turnamen ini juga merupakan kejuaraan yang bernilai penting dan strategis. Karena dapat dijadikan sebagai salah satu indikator, bahwa masih berjalannya pembinaan dan pelatihan cabang olahraga sepakbola di setiap desa, khususnya dalam wilayah Kecamatan Waru.
“Semoga bisa lahir atlet-atlet sepakbola berprestasi dan berbakat yang bisa kita banggakan dimasa hadapan. Dan dari pertandingan grand final yang baru disaksikan bersama ini, dapat dilihat pemain-pemain yang bagus,” terangnya.
Gus Muhdlor juga mengajak dan menghimbau, sekaligus mengingatkan kepada seluruh peserta turnamen, agar senantiasa menumbuhkan rasa kebersamaan, sportivitas, menjunjung tinggi fair play, memperkokoh persatuan dan kesatuan.
“Dan semua klub harus mentaati seluruh ketentuan dan peraturan pertandingan yang telah disepakati bersama. Selamat bertanding,” papar putra KH Agoes Ali Masyhuri pendiri Pesantren Progresif Bumi Shalawat Lebo Sidoarjo itu. (isa/kun)






