Kediri (beritajatim.com) – Para Pedagang Kaki Lima (PKL) ayam goreng di Kediri, Jawa Timur, menjerit akibat harga daging ayam yang masih bertahan di level tinggi, yakni kisaran Rp35.000 hingga Rp36.000 per kilogram.
Kondisi ini memaksa mereka bertahan dengan keuntungan yang menipis, sambil berharap harga komoditas utama tersebut segera stabil. Kenaikan harga ini, menurut Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri, dipicu oleh kombinasi meningkatnya permintaan dan berkurangnya pasokan dari peternak.
Muhsin, seorang pedagang Ayam Kentucky di Tulungrejo, Pare, Kabupaten Kediri, mengaku hanya bisa pasrah. Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada daging ayam, tetapi juga pada minyak goreng yang menjadi bahan pokok usahanya. Ia memilih untuk tidak menaikkan harga jual demi mempertahankan pelanggan, meski konsekuensinya pendapatannya menyusut.
“Ayam mahal, ya nipis mbak, cuma ya mau gimana lagi, kalau dinaikin nanti pelanggan pindah ke A lagi gitu. Kan soalnya kalau ayam kaya gini kan bisa naik turun, nanti kalau turun kan saya nggak nurunin kan gitu, cuma kalau naik ya tetep bertahan itu, cuma kalau menipis itu cukup buat makan,” terang Muhsin.
Imbasnya, volume pembelian ayam oleh Muhsin pun berkurang drastis. Jika biasanya ia membeli hingga 5 kg per hari, kini ia hanya mampu membeli 2-3 kg. Keluhan serupa datang dari Wahyu (32), pedagang Ayam Krispy dan Jamur Krispy di kawasan Kampung Inggris, Pare.
Ia menyebut kenaikan harga ayam sebesar Rp6 ribu per kilogram sangat signifikan memangkas keuntungan, apalagi ditambah dengan biaya minyak goreng dan tepung yang juga besar. “Masih ada untung tapi menipis mbak. Sekarang katakanlah Rp36 ribu naik Rp6 ribu kalau kali 5 sudah Rp30 ribu sedangkan kalau kentucky seperti ini, itu kan menipis, minyaknya sudah habis banyak, tepungnya habis banyak, kalahnya disitu,” ujarnya.
Menyikapi kondisi ini, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, menjelaskan bahwa tingginya harga daging ayam dipengaruhi oleh beberapa faktor. Penyebab utama adalah meningkatnya kebutuhan masyarakat sejak Agustus akibat perayaan Agustusan hingga September yang bertepatan dengan Maulid Nabi.
Di sisi lain, terjadi penundaan masa panen sebagai efek domino dari harga ayam hidup yang turun beberapa bulan sebelumnya, membuat peternak menunda panen. “Dampaknya begitu ada kenaikan permintaan, sementara ketersediaan di pasokan, di produsen itu berkurang, otomatis menaikkan harga,” terang Tutik.
Untuk harga minyak goreng, Tutik mengakui bahwa selain merek “Minyak Kita”, harga di pasaran memang lebih tinggi, berkisar antara Rp18 – 19 ribu per liter. Namun, pihaknya memastikan stok kedua komoditas ini di Kabupaten Kediri masih dalam kondisi aman.
“Dari pantauan kami masih aman mbak. Memang kebutuhan lagi tinggi juga,” tandasnya. Di tengah ketidakpastian harga, pedagang seperti Muhsin dan Wahyu hanya bisa berharap agar situasi segera normal kembali, dengan harga ayam kembali ke kisaran Rp28 – Rp30 ribu per kilogram. [nm/ian]






