Surabaya (beritajatim.com) – Belakangan ini lirik lagu plesetan ‘Joko Tingkir Ngombe Dawet’ yang dipopulerkan oleh Denny Caknan, Cak Percil, dan Cak Shodiq menjadi sorotan publik. Sejumlah tokoh pun angkat bicara.
Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah tokoh mulai dari kiai hingga seniman di Kabupaten Lamongan dibuat resah oleh lirik lagu tersebut. Bahkan, ajakan memboikot lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet itu pun sudah digaungkan.
Menanggapi itu, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya Dr Achmad Murtafi Haris, Lc, M.Fil.I mengatakan, sebenarnya respon seperti itu adalah hal wajar. Menurutnya, seni itu harus hidup, namun tetap dalam koridor. Artinya, pencipta harus mempertimbangkan materi yang akan ia masukkan ke dalam karyanya.
“Seni itu tetap harus digunakan, seni itu harus hidup. Cuma ketika ada materi di dalamnya yang kemudian mengundang kritik atau respon, itu masukan yang harus dipertimbangkan. Jadi gak terus karepe dewe-dewe (tidak semaunya sendiri). Wajar ada respon. Itu wajar,” kata Murtafi, Kamis (11/8/2022).
Ia lantas mencontohkan, bahwa dulu juga sempat viral lagu Jaran Goyang. Namun, saat itu tidak ada sebuah persoalan, karena memang masyarakat menganggap itu merupakan hal yang wajar.
“Kalau ini terkait dengan figur yang ternyata dia adalah termasuk tokoh Islam, sehingga ketika dibuat ‘parikan’ yang itu barangkali kurang sesuai, kemudian ada respon dari kelompok masyarakat tertentu yang merasa itu tidak tepat untuk digunakan plesetan semacam itu. Jadi itulah, bagian dari dinamika sosial,” jelasnya.
“Jenenge urip wong akeh (namanya hidup bersosial) tetep harus mempertimbangkan kanan kiri, depan belakang. Jadi nggak kemudian kalau membuat, kemudian terus lepas begitu saja, tidak,” lanjutnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”joko-tingkir-ngombe-dawet”]
Murtafi juga menjelaskan, bahwa seni memang harus dimiliki oleh elemen-elemen, termasuk agama. Artinya, seni bagian dari media untuk berdakwah. Hanya saja, hal itu rawan hedonisme atau hura-hura semata, sehingga bisa membuat orang lupa daratan.
“Jadi berkesenian, selain itu menghibur dia juga harus tidak lepas dari norma sosial biar manfaat, biar nggak lari ke hedonisme yang nanti lek diterusno jebuse (jika diteruskan jadinya) miras, narkoba. Bagaimana biar musik, seni itu bisa diarahkan positif sebab manusia secara fitrah butuh hiburan. Berkesenian itu bagian dari kebutuhan. Cuma itu tadi, rawan ke hedonisme, hura-hura yang berlebihan,” bebernya.

Karena itulah, terkait dengan syair lagu Joko Tingkir, Murtafi menekankan adanya pertimbangan. Tak hanya bagi para pencipta lagu, siapapun, kata dia, harus mempertimbangkan banyak hal agar tidak menyenangkan diri sendiri.
“Kalau menyebut nama tokoh seperti Joko Tingkir, perlu juga melihat itu sosok siapa ? Jadi tidak kemudian main comot aja. Sebab, itu nama tokoh besar dan dia punya keturunan, dan tentunya keturunannya tidak bisa lepas tangan begitu saja. Wajar kalau mereka berkomentar,” urainya.
Sebagai informasi, sebelumnya Ulama Kondang KH Ahmad Muwafiq juga telah mengingatkan, seperti yang dikutip dari akun @gusmuwafiqchannel. Menurut Gus Muwafiq, Joko Tingkir adalah seorang ulama, kiai dan juga murid Sunan Kalijaga.
Selain itu, Joko Tingkir merupakan tokoh yang melahirkan ulama besar, salah satunya adalah KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yang juga kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Semua (ulama) Tapal Kuda adalah trah Tingkir semua, ini tidak main-main sebenarnya. Makanya saya jengkel begitu ada lagu ‘Joko Tingkir Ngombe Dawet’. Ini siapa yang ngarang? Ngawur banget. Perlu diingatkan yang ngarang itu,” tuturnya. (ipl/ted)






