Mojokerto (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 membuat masyarakat harus Home From Work (WFH), anak sekolah mengikuti pembelajaran melalui daring (dalam jaringan). Akibatnya, jumlah pasien mata di Rumah Sakit Islam (RSI) Hasanah Kota Mojokerto naik 30 persen.
“Dua tahun ini pandemi, semuanya daring, semuanya online, WFH. Otomatis lebih sering dari kita melihat jauh, aktivitas di luar. Dilaporkan dari beberapa jurnal luar negeri yang dulunya sebelum pandemi khususnya anak sekolah ya, kenaikan minusnya, normalnya itu dalam 1 tahun itu minus 1/2, 0,75 ini meningkat,” ungkap Dokter spesialis mata RSI Hasanah, dr Nuke Erlina Mayasari SpM, Rabu (20/4/2022).
Saat pandemi, dalam jangka waktu satu tahun bisa menjadi minus 1 sampai minus 2. Peningkatan yang cukup cepat tersebut disebabkan karena melihat lebih dekat, sering dilakukan daripada aktivitas melihat jauh. Lensa mata dipaksa untuk akomodasi terus. Menurutnya, ada untuk menanggulangi agar mata tidak cepat lelah.
“Sebetulnya ada yang namanya Rules 20-20-20. Setiap 20 menit melihat layar monitor atau gedget, mata diistirahatkan untuk melihat jauh sejauh 20 kaki (6 meter) selama 20 menit. Ini untuk mengistirahatkan mata, untuk semua. Untuk mencegah supaya minusnya tidak terlalu cepat datang,” katanya.
Mereka yang sudah minus, lanjut dr Nuke, tidak terlalu cepat bertambahnya. Sementara yang belum minus, tidak cepat minus. Ia pun memberikan contoh, salah satu pasiennya merupakan pelajar Sekolah Dasar (SD) kelas VI minus sekitar 0,75. Sebelum pandemi, main game terus.
“Beberapa bulan sebelum pandemi, pengakuan ibunya dia nge-game terus. Lebih dari 6 jam, sampai malam, sampai tidak tidur. Dia kontrol setahun kemudian, dia sudah kelas 1 SMP. Naiknya banyak banget dari minus 0,75 jadi 1,75 jadi dalam 1 tahun langsung naik 1, banyak banget karena dia tidak mengurangi gadget-nya itu,” ujarnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”mata”]
Lanjut dr Nuke, pasien mata di RSI Hasanah saat pandemi Covid-19 adalah anak-anak dan remaja yakni usia antara 18-20 tahun. Menurutnya, pasien mata dengan usia 30 tahun ke atas tidak terlalu banyak. Diduga karena banyak pemakaian gadget dengan durasi cukup lama.
“Lebih banyak sekarang (pasien). Karena adanya pandemi ini, kita dipaksa daring. Otomatis semua anak melihat HP, gadget lebih lama dibanding sebelum pandemi. Sebelum pandemi mereka sudah main game, apalagi pandemi ya. Karena dipaksa di rumah,” urainya.
Kenaikan jumlah pasien mata di RSI Hasanah sekitar 20-30 persen. dr Nuke menjelaskan, gangguan penglihatan baik di Indonesia maupun dunia, pertama karena katarak, kedua glukoma dan ketiga yakni gangguan reflaksi mata. Menurutnya banyak masyarakat yang tidak sadar butuh kacamata.
“Karena biasanya seperti anak-anak itu takut. Takut bilang ibunya, takut karena akan dimarahi. Banyak, datang kesini tahu-tahu sudah minus 3 padahal masih kelas III SD. Kalau ditanya kabur sejak kapan? Dia nggak ngerti, mungkin selama ini teman-temannya yang lain kayak gini. Atau tahu kabur, duduk di belakang tidak kelihatan,” jelasnya. [tin/suf]






