Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 18 Ribu Pendekar Pagar Nusa memenuhi lapangan Jala Krida Mandala, Bumimoro, Surabaya, Minggu (22/10/2023) siang.
Suhu kota Surabaya yang mencapai 38 derajat tidak melunturkan semangat para pendekar untuk menghadiri Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pengurus Pusat Pagar Nusa.
Selain suhu kota Surabaya yang panas, mereka juga harus berjalan kaki hampir 3 Kilometer dari parkiran menuju lapangan Jala Krida Mandala, Bumimoro, Surabaya.
Para Pendekar Pagar Nusa datang dari berbagai kota di Indonesia. Ada yang dari Jakarta sampai Jawa Barat. 18 ribu pendekar Pagar Nusa ini mencerminkan loyalitas sebagai Pagar pelindung Kyai NU dan pioner pemersatu bangsa.
Berbagai kelompok silat tumbuh subur di Indonesia. Terbukti, catatan perguruan silat yang dibawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sampai tahun 1993 berjumlah 840 perguruan. Jumlah ini belum diperbarui. Kemungkinan besar angkanya jauh meningkat di tahun 2023.
Perguruan Pagar Nusa adalah salah satu perguruan silat besar yang berada di bawah naungan IPSI. Pagar Nusa pertama kali didirikan pada 3 Januari 1986 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Nama resminya adalah ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU) Pagar Nusa kemudian sekarang membuang kata ikatan, menjadi Pencak Silat NU. Sedangkan Pagar Nusa sendiri berarti pagarnya NU dan bangsa.
Nahdlatul Ulama (NU) mengesahkan pendirian dan kepengurusan Pagar Nusa melalui Surat Keputusan tertanggal 9 Dzulhijjah 1406/16 Juli 1986. Lahirnya Pagar Nusa berawal dari perhatian dan keprihatinan para kiai NU terhadap surutnya ilmu bela diri pencak silat di pesantren. Padahal, pada awalnya pencak silat merupakan kebanggaan yang menyatu dengan kehidupan dan kegiatan pesantren.
Perhatian para Kiai itu berbuah manis. Saat ini, Pagar Nusa merupakan salah satu perguruan silat terbesar di Indonesia dengan jumlah 3 juta pendekar. Dengan jumlah pengikut yang besar, Para Pendekar Pagar Nusa juga memiliki loyalitas kepada organisasi begitu kuat.
“Saya dari kediri mas sama temen-temen ada 3 bis. Kita urunan per orang 30 ribu untuk sewa bis,” ujar Fahrul, salah satu pendekar Pagar Nusa yang menghadiri acara Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pengurus Pusat Pagar Nusa di lapangan Bumimoro Surabaya.
Baca Juga: Gus Nabil Komitmen Pagar Nusa Jadi Jembatan Persatuan Bangsa
Fahrul mengatakan bahwa acara ini sebagai bentuk sambung tali silaturahmi kepada anggota Pagar Nusa lainnya. Selain itu juga sebagai acara sambang kyai. Wajar, Pagar Nusa adalah pagarnya NU dan Bangsa.
“Ya saya bawa uang pas-pasan mas. Asal cukup untuk berangkat dan pulang. Disini pasti sesama pendekar Pagar Nusa saling bantu,” imbuh Fahrul.
Kesolidan dan loyalitas pendekar Pagar Nusa juga diamini oleh Siti Rohmana. Salah satu pedagang di sekitar lapangan Bumimoro yang ketiban untung. Ia menjual berbagai minuman dingin dan snack ringan seperti toko kelontong pada umumnya.

Ia begitu kagum dengan kehadiran Pendekar Pagar Nusa. Menurutnya, para pendekar sudah datang sejak hari Jumat (20/10/2023). Ada yang dari Jakarta dan Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia kagum karena para pendekar sempat membantunya bersih-bersih toko. Maklum, ia menjaga toko kelontongnya sendirian. Biasanya, ia dibantu oleh para tetangganya.
“Saya salut sama yang dateng mas. Dari daerah jauh-jauh semua makanya saya jual seperti biasanya aja. Saya ga menaikan harga,” tuturnya.
Karena rasa kagumnya, ia sempat menyediakan alas tikar dan amben sederhana dari bambu untuk para pendekar tidur di depan tokonya. Sampai hari Minggu (22/10/2023) saat acara puncak Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pengurus Pusat Pagar Nusa, para pendekar membantu pedagang sekitar untuk membersihkan sampah.
“Mereka juga kelihatan kompak. Jiwa sedulurannya kuat. Saya lihat pendekar urunan mas untuk beli rokok atau air putih dan makan,” katanya.
Loyalitas pendekar Pagar Nusa juga diamini oleh M Nabil Haroen, Pimpinan Pusat Pagar Nusa masa khidmat 2023-2028. Pria yang akrab disebut Gus Nabil itu menjelaskan ada pendekar dari Pagar Nusa yang berusia 65 tahun dari Bantul yang hadir untuk memperoleh Ijazah dari para kyai.
“Ada juga yang dari Kalimantan Utara. Itu biaya pulang pergi bisa 6 juta. Kesini buat apa ? Ya buat melihat dan sowan ke para kyai. Inilah Pagar Nusa. Badan otonom yang dimiliki oleh para kyai,” kata Gus Nabil.
Dengan loyalitas dan jumlah pengikut yang cukup besar. Presiden Joko Widodo berharap agar para pendekar Pagar Nusa bisa menjadi ujung tombak perekat persatuan bangsa. Ia juga berharap para pendekar bisa menjadi kepanjangan tangan dari para kyai untuk menjadi contoh yang baik bagi masyarakat.
“Marilah kita semua mengasah rasa cinta dan bangga kita dengan menjaga kedaulatan bangsa dan melestarikan kekayaan budaya nusantara,” ujar Jokowi di hadapan 18 ribu pendekar Pagar Nusa.
Panas kota Surabaya pada hari Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pengurus Pusat Pagar Nusa memang menyengat di kulit. Namun, melihat solidaritas dan kecintaan kyai yang hadir ditambah petuah dari Presiden Jokowi membuat hati dingin dan pikiran terbuka. Percayalah bahwa Pagar Nusa akan jadi pelindung para kyai dan pioner pemersatu bangsa.
Pagar Nusa, Hitam itu pasti. Putih itu suci. NKRI harga mati. Bela kiai sampai mati. (ang/ted)






