Ponorogo (beritajatim.com) – Literasi reog dari masa ke masa coba dihadirkan dalam perayaan Grebeg Suro tahun 2022. Panitia sengaja mengadakan pameran barongan lawas, supaya masyarakat tahu model atau bentuk dari tahun ke tahun.
Sebab, seiring dengan perkembangan zaman, ternyata model barongan reog mengalami perubahan. “Barongan dulu dan barongan sekarang sudah berbeda bentuk dan ukurannya,” kata salah satu pengoleksi barongan lawas, Budi Maryono, Sabtu (23/7/2022).
Budi yang juga ikut menjaga stan pameran barongan lawas itu menjelaskan bahwa barongan dulu bentuknya mengerucut dan ukurannya lebih kecil dari model yang sekarang. “Barongan sekarang modelnya mrepes (rata), tidak mengerucut seperti dulu,” ungkapnya.
Sedangkan bahan untuk membuatnya terap sama. Dibuat dari kayu dadap dan memakai kulit. Nah, jenis kulitnya lah yang membedakan barongan dulu dengan yang sekarang. Menurutnya, kurun waktu sebelum tahun 1980-an, pembuatan barongan menggunakan kulit hewan macan tutul. Namun, di tahun 1980 keatas, diganti dengan kulit sapi atau kulit kambing.
“Bahan pembuatannya dari dulu hingga sekarang masih sama. Yakni dari kayu dadap dan kulit. Yang membedakan dulu sebelum tahun 1980 memakai kulit macan tutul, sedangkan setelahnya memakai kulit kambing atau sapi,” katanya.
Setidaknya ada 10 barongan lawas yang dipamerkan di stan yang berada di parkiran gedung Sasana Praja itu. Yang dipamerkan barongan dari tahun 1910 hingga tahun 1950. Ada juga beberapa barongan yang belum tahu kapan tahun pembuatannya. “Barongan paling lama dibuat tahun 1910 dan paling muda pembuatannya pada tahun 1950,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”reog”]
Budi menambahkan sebenarnya masih banyak barongan yang disimpan secara individu di rumah warga. Setahun dirinya melakukan penelusuran, tercatat ada 600 barongan tua yang hingga kini masih tersimpan di rumah warga. Lokasinya pun, tidak hanya dari Ponorogo, namun juga ada di Madiun, Magetan hingga yang terjauh di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah.
Lebih lanjut, menurut keterangan yang diperoleh Budi dari orang-orang yang menyimpan barongan itu, terkuak bahwa memang barongan-barongan tua itu tidak boleh dijual. Berapapun nominal penawarannya tetap tidak boleh dijual. Rusak atau tidak nantinya, tetap dijaga dan dirawat di rumah. “Pesan dari mbah-mbah dulu tidak boleh dijual, suruh simpan di rumah meski hingga nanti kemungkinan rusak parah,” pungkasnya. [end/suf]






