Surabaya (beritajatim.com) – Tiga tahun yang lalu, tepatnya pada 26 Januari 2020, sebuah kecelakaan tragis menimpa mantan pebasket profesional Kobe Bryant bersama anaknya, Gianna Maria Onore Bryant.
Musibah tersebut menyebabkan keduanya harus kehilangan nyawa. Helikopter yang membawa ayah dan anak beserta tujuh penumpang ini jatuh di Calabasas, California, menewaskan seluruh penumpang di dalamnya.
Kematian Bryant lantas mengejutkan seluruh dunia, semuanya pun berduka dan ikut merasa kehilangan. Bahkan, bandara Los Angeles, Empire State Building dan Burj Khalifa menyalakan lampu berwarna ungu dan kuning, warna khas Lakers sebagai tanda penghormatan atas kepergiannya.
Meski telah tiada, prestasi pria yang lahir di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika ini terus dikenang. Ia memiliki perjalanan karir yang telah menginspirasi banyak orang.
[berita-terkait number=”5″ tag=”profil”]
Kisah Perjalanan Hidup dan Karir
Kobe Bean Bryant, anak bungsu dari pasangan Pamela Cox dengan mantan pemain basket NBA, Joseph Washington “Jelly Bean” Bryant. Meski lahir di Amerika Serikat, Bryant sempat menghabiskan waktu untuk tumbuh di Italia, mengikuti sang ayah yang meneruskan karirnya dalam bermain basket.
Bryant yang sudah tertarik dengan dunia basket di umur 3 tahun pun akhirnya ikut mengasah bakatnya di Italia. Ia berlatih dengan gigih hingga akhirnya mereka kembali bertempat tinggal di Amerika Serikat kala Bryant berumur 13 tahun. Barulah setelah itu Bryant bergabung dengan tim basket SMA-nya yang bernama Lower Merion High School di Philadelphia, bahkan ia mendapat catatan yang sangat apik. Tak heran jika Bryant berhasil terpilih sebagai pemain Pennsylvania terbaik baik di tingkat SMP maupun SMA.
Di tahun 1996 pria yang disebut sebagai “Black Mamba” ini terjun ke NBA, dengan kontrak 3 tahun bernilai USD 3,5 juta atau hampir setara dengan Rp 53 miliar. Namun kala itu bakat yang dimiliki Bryant masih dianggap sebelah mata, sehingga ia harus berlatih lebih keras lagi untuk bisa menyamai keahlian rekan – rekannya.
Salah satu anggota tim LA Laker, Byron Scott pernah mengatakan jika Bryant selalu berlatih shooting dua jam sebelum latihan sesungguhnya dimulai. Hal serupa juga diakui oleh John Celestand yang mengatakan kalau Bryant selalu menjadi orang pertama yang berlatih di gym meski ia sedang dalam keadaan cedera.
Meski begitu, Lakers terus mempercayainya untuk tampil sehingga ia menjadi pemain termuda kedua yang bermain di NBA dengan usia 18 tahun 72 hari. Ia juga menjadi starter termuda di NBA di usia 18 tahun 158 hari. Kejadian paling menarik dalam sejarah permainannya di Lakers adalah saat timnya bertemu dengan Chicago Bulls sebagai lawan, artinya mereka akan berhadapan dengan Michael Jordan. Walaupun belum menjadi juara, Kobe Bryant berhasil meraih 33 poin, hanya terpantau 3 poin lebih sedikit dari sang legenda.
Di tahun keduanya berada di NBA, Bryant mendapat All Stars perdananya, menjadikan ia sebagai pebasket muda yang bisa bergabung dengan All Stars. Ia pun terus melahirkan prestasi seiring berjalannya waktu, dan tentu saja menjadi kebanggan bagi Lakers. Terlebih saat ia membawa timnya meraih tiga gelar NBA berturut – turut di tahun 2000, 2001, dan 2022.
Gantung Sepatu
Setelah 20 tahun setia berkarir di NBA, di tahun 2015 Bryant resmi mengakhiri perjalannya dengan. Keputusannya untuk gantung sepatu itu bukan tanpa alasan, melainkan karena ia mengalami cedera pada 2009 – 2010, yakni retak avulsion jari telunjuk, pembengkakan lutut kanan, pergelangan kaki kiri terkilir, hingga Tendon Achilles kaki kiri yang sobek. Selain itu tulang lutut kaki kirinya patah, ditambah dengan tendon bahu yang sobek semakin memperparah keadaan.
Ia memutuskan pensiun dan berkecimpung di dunia bisnis bersama sang istri, Vanessa Bryant, dan keempat anaknya. Namun sayangnya, kejadian tersebut justru merenggut nyawa Bryant bersama anak kedua mereka, membuat dunia tidak hanya kehilangan seorang pebasket professional, namun juga sosok menginspirasi itu sendiri. (mnd/nap)






