Surabaya (beritajatim.com) – Muktamar ke – 35 Ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) sudah semakin dekat. Diselenggarakan pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, perhelatan agenda lima tahunan kali ini terasa begitu spesial. NU sebagai ormas telah melewati perjalanan sepanjang medio 1926 hingga 2026. Artinya, tepat 1 abad NU menjadi jangkar kehidupan kebangsaan, persatuan, dan keislaman di Indonesia.
Tentunya dari sekian agenda dalam Muktamar, yang paling dinanti oleh jutaan Nahdliyin di seluruh Indonesia ialah who will be the next leader? Siapa yang bakal melanjutkan tampuk kepemimpinan dari organisasi yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari ini. Sekian nama bermunculan, mulai dari incumbent, beberapa pengurus aktif, hingga dari kalangan menteri.
Belakangan, ada satu nama yang bisa dibilang jarang muncul di depan kamera namun denyut langkahnya terasa hingga ruang-ruang kerja para penggerak jam’iyah. Beliau adalah Gus Gudfan Arif, putra dari KH. Abdul Ghofur pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat yang kini diamanahi sebagai Plt. Bendahara Umum PBNU.
Pria yang akrab dipanggil sebagai Gus Gudfan ini memiliki jejak langkah nyata yang cukup progresif. Di usianya yang belum bisa dibilang tua, beliau telah menggawangi berbagai perusahaan di bidang oil & gas, batu bara, hingga produksi garam. Betapa sebuah proses yang dapat mencerminkan bahwa Indonesia sebagai tanah yang gemah ripah loh jinawi tlah begitu banyak rahmat yang Allah berikan, melalui segala pemikiran dan kreativitas ia wujudkan untuk menjadi barokah bagi sesama.
Belum lagi dalam urusan manajerial usaha, melalui program Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat yang telah tersebar hingga 70 titik sangatlah cukup menjadi tolok ukur sebagai pesantren yang mandiri berekonomi.
Bagaimanapun, semua rekam jejak ini tak terlepas dari warisan trah leluhur beliau, yakni Sunan Drajat dalam Catur Piwulangnya. Berilah makan kepada yang kelaparan, berilah tongkat kepada yang buta, berilah pakaian kepada yang telanjang, berilah payung kepada
yang kehujanan.
Sebuah ajaran yang tentu mendarah daging dalam setiap derap langkah Gus Gudfan. Bahwa islam hadir menjadi solusi dari segala problematika masyarakat. Inilah ajaran yang begitu dekat dengan hajat hidup orang banyak. Barangkali, bentuk praktik yang telah teruji juga yang sedang dibutuhkan oleh ormas bernama Nahdlatul Ulama.
Nahdlatul Ulama sebagai ormas tentu dihadapkan dengan beragam tantangan yang tidak bisa dianggap sepele. Dengan jumlah warga nahdliyin yang diperkirakan berkisar antara 140 hingga 160 juta jiwa, acapkali NU selalu dimintai perannya dalam persoalan kesejahteraan rakyat hingga disintegritas bangsa. Belum lagi, kemajuan teknologi informasi yang juga perlu disambut agar substansi dakwah NU yang berprinsip pada Tawassuth (bersikap tengah- tengah) , Tasamuh (seimbang) , dan Tawazun (toleran) dapat merasuk dalam urat nadi kehidupan bermasyarakat.
Dalam satu kesempatan, KH. Ma’ruf Amin, mantan Rais Am PBNU pernah mengatakan bahwa Ketua Umum PBNU harus memiliki empat kriteria: fakih, munadzim (organisatoris), mampu menggerakkan, dan bijaksana. Dalam hal ini, Gus Gudfan dengan profilnya memiliki kemelekatan pada bagian organisatoris dan mampu menggerakkan. Tentu kriteria lainnya juga tak kurang Gus Gudfan juga berakar kuat dengan lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren yang bukan sembarang pesantren.
Pun dengan santernya dorongan beliau untuk memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di NU, beliau tetap bersikap sebagaimana tradisi kiai-kiai terdahulu, bahwa kepemimpinan bukan sesuatu yang pantas untuk diminta dan dipaksakan, tapi tumbuh dari tindakan yang melahirkan kepercayaan. Begitu menyejukkan. (*)
Mukhlis Ndoyo Said
Pemerhati dan Pegiat Budaya






