Surabaya (beritajatim.com) – Menteri Ketenagakerjaan RI Ida Fauziah menyebut jika tingkat pengangguran terbuka (TPT) justru didominasi oleh lulusan SMA, SMK, dan Diploma, ketimbang lulusan SMP dan SD.
Tidak adanya link and match menjadi salah satu penyebab dari banyaknya pengangguran dari lulusan SMA, SMK, dan Diploma Perguruan Tinggi tersebut. Pendidikan dan pelatihan vokasi tidak menjawab kebutuhan pasar kerja.
“Ini tantangan bagi pendidikan vokasi karena SMK termasuk tinggi sumbangannya terhadap pengangguran kita,” kata Ida saat acara Menaker Talk di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Jumat (22/12/2023).
Ida menjelaskan, sebanyak 56 persen penduduk usia bekerja adalah mereka yang lulus di bangku SD dan SMP. Sedangkan pengangguran di Indonesia justru didominasi lulusan SMA sederajat dan perguruan tinggi.
“Ini tantangan besar. Mereka yang berpendidikan SMP dan SD kenapa banyak yang bekerja ? Karena mereka bekerja pada lapangan pekerjaan yang sesuai kompetensinya. Bahkan tidak perlu kompetensi, karena merasa pendidikannya SMP dan SD, maka mereka menerima segala macam pekerjaan,” beber Ida.
Sebaliknya, para lulusan SMA, SMK, dan Diploma yang merasa dirinya berpendidikan tinggi, cenderung untuk memilih-milih pekerjaan. Kendati banyak lapangan pekerjaan, namun mereka tidak memiliki skill dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
“Kondisi seperti ini menjadi tantangan, karena tahun 2030 kita punya bonus demografi. Bisa dibayangkan jumlah penduduk usia produktif banyak, tapi akan menjadi ‘madhorot’ bagi bangsa ini jika tidak mampu menyiapkan lapangan pekerjaan bagi mereka,” ujar Ida.
Oleh karena itu, penyiapan skill dan kompetensi dinilai menjadi hal sangat penting untuk dilakukan. Selain itu, juga diperlukan adanya pembangunan link and match. “Akhirnya Bapak Presiden mengeluarkan Perpres 68 tahun 2022 berisi memerintahkan pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi untuk melakukan revitalisasi,” tuturnya.
Ida menilai jika terciptanya link and match tidak hanya tugas atau pekerjaan dari pemerintah pusat atau daerah saja, namun pihak swasta juga harus terlibat di dalamnya. “Swasta yang tahu pasar kerjanya, berkolaborasi dengan pendidikan dan pelatihan vokasi agar menyiapkan skill dan kompetensinya. Kalau sudah seperti ini maka terjadilah link and match sehingga kita bisa terus menekan tingkat pengangguran terbuka,” tandasnya. [ipl/kun]






