Madinah (beritajatim.com) – Langit Jeddah membara di bawah terik mentari pada Jumat (8/5/2026) siang, namun riuh rendah ribuan jemaah Kloter 16 Embarkasi Batam (BTH) membawa kesejukan tersendiri bagi satu sosok mungil yang melangkah di Bandara King Abdulaziz.
Namanya Aila Afifah. Di usianya yang baru saja menyentuh angka 12, jemari kecilnya kini tak lagi menggenggam alat tulis usai ujian sekolah, melainkan erat mendekap paspor menuju Baitullah.
Gadis asal Pontianak, Kalimantan Barat ini bukan sekadar datang untuk berziarah. Ia membawa beban rindu yang dipilin dalam balutan kain ihram, sebuah amanah suci untuk menuntaskan mimpi yang sempat terhenti oleh maut. Aila berangkat untuk menggantikan posisi almarhumah ibundanya, sosok yang seharusnya berada di sampingnya menapaki padang Arafah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, menyaksikan bagaimana raut keteguhan memancar dari wajah Aila di tengah kepungan jemaah dewasa. Tak ada keraguan, hanya ada binar kesiapan seorang anak yang ingin berbakti melampaui batas dunia.
Takdir keluarga ini mulai ditulis pada 2013 silam, saat ayah dan ibu Aila mendaftarkan diri dalam antrean panjang menuju rumah Allah. Namun, badai pandemi COVID-19 pada 2021 mengubah segalanya. Sang ibu dipanggil pulang ke haribaan Sang Khalik sebelum sempat melihat gerbang Makkah. Kursi haji yang kosong itu pun menjadi warisan spiritual bagi Aila.
Sang ayah, Ismail Umar, sempat didera kebimbangan. Bayang-bayang aturan usia minimal keberangkatan sempat menghantui pikirannya. Namun, tangan-tangan takdir bergerak melalui penyesuaian regulasi baru yang memungkinkan Aila—setelah mendapat dukungan penuh dari sekolah dan otoritas haji—untuk melangkah menggantikan sang ibu.
“Alhamdulillah, dengan bantuan dari Kementerian yang mengurus haji dan pihak sekolah, kondisi Aila memungkinkan untuk berangkat. Saya hanya berdoa semoga kami kembali dalam keadaan sehat walafiat,” ungkap Ismail Umar, suaranya bergetar menahan haru yang membuncah di tengah hiruk pikuk bandara.
Di balik statusnya sebagai jemaah haji termuda tahun ini, Aila menyimpan kedewasaan yang melampaui usianya. Hari-harinya sebelum terbang ke tanah haram diisi dengan latihan fisik dan manasik yang disiplin. Baginya, haji bukan sekadar perjalanan religi, melainkan sebuah percakapan rindu yang tertunda dengan ibundanya.
“Saya sangat senang. Persiapannya sudah baik, mulai dari ibadah, shalat, hingga manasik,” tutur Aila singkat, memperlihatkan kematangan seorang gadis kecil yang telah ditempa oleh kehilangan.
Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan sebuah janji yang ia simpan rapat dalam relung hatinya. Sebuah janji yang akan ia tumpahkan saat keningnya menyentuh bumi di depan Ka’bah. Di sana, di tempat doa-doa menembus langit tanpa hijab, Aila telah menyiapkan satu permohonan yang paling ia rindukan.
“Semoga Mama tenang di alam sana dan dilapangkan kuburnya,” ucapnya lirih. Kalimat sederhana itu seolah menjadi inti dari seluruh perjalanannya menyeberangi samudera.
Kehadiran Aila Afifah di Tanah Suci bukan sekadar statistik sebagai jemaah paling belia. Ia adalah simbol bahwa bakti seorang anak tak pernah mengenal kata usia, dan rida seorang ibu akan selalu menemukan jalannya untuk sampai ke pintu surga melalui doa-doa yang dilangitkan di pusat semesta. [ian/MCH]






