Kediri (beritajatim.com)– Di Kediri ada sebuah masjid tua yang telah berdiri jauh sebelum adanya Pondok Pesantren Lirboyo. Masjid ini bernama Al-Alawy, yang didirikan oleh Kiai Ambiyak.
Pendiri masjid yang berada di Kelurahan Banjarmlati, Kota Kediri inilah yang kemudian menurunkan kiai-kiai dan ulama besar pendiri pondok pesantren di Kediri, salah satunya Lirboyo. Pesantren Lirboyo sendiri didirikan oleh Kiai Abdul Karim atau yang lebih dikenal dengan Mbah Kiai Manab, pada tahun 1910 silam.
Berdirinya Pondok Lirboyo sendiri tidak terlepas dari putri Kiai Soleh, Banjarmlati yang bernama Siti Khodijah atau Nyai Dhomroh yang dinikahi oleh Kiai Abdul Karim, pada tahun 1908. Berbicara tentang Kiai Sholeh, yang merupakan mertua dari Kiai Abdul Karim. Kiai Sholeh merupakan salah satu keturunan dari Kiai Ambiyak, tepatnya adalah cucu ulama dari Tulungagung itu.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kediri”]
Konon, Kiai Ambiyak datang ke Kediri dengan menyusuri Sungai Brantas. Saat melintasi daerah Banjarmlati, sang tokoh agama itu mendapati sebuah kawasan yang saat itu masih berupa hutan, berbau wangi. Oleh Kiai Ambiyak tempat tersebut dijadikan tempat tinggal dan didirikan masjid dan pondok pesantren, serta dari bau tersebut, daerah tersebut diberi nama Banjarmlati atau wilayah yang berbau melati.
“Mbah Ambiyaklah sebagai pendirinya. Dia ulama besar yang berasal dari Tulungagung. Kemudian menyusuri Sungai Brantas. Setelah mencium aroma wangi, Mbah Ambiyak berhenti. Beliau kemudian mendirikan masjid, serta pondok pesantren disini ini,” kata Mohammad Arwani, jamaah Masjid Al – Alawy.
Dijelaskannya kembali, dulu bangunan masjid terbuat dari kayu dan terletak di pinggir Sungai Brantas yang kini telah menjadi kebun. Namun seiring waktu, masjid pun berubah menjadi beton dengan arsitek yang bangun oleh santri-santri pondok yang juga didirikan oleh Kiai Ambiyak.
Bangunan masjid merupakan bangunan kuno dengan nuansa jawa yaitu berbentuk limasan seperti pendopo, dengan empat tiang utama serta delapan tiang penyangga. Tepat di tengah tiang utama terdapat sebuah ukiran berbentuk semacam rumah lebah yang merupakan peninggalan sejak pertama kali masjid didirikan.
Sementara itu, masih dengan keunikannya, di sisi serambi masjid ini juga terdapat sebuah bedug dan kentongan berukuran cukup besar yang terbuat dari kayu berbahan keras dan berusia tua, dan hingga sekarang masih digunakan oleh jamaah masjid tiap kali adzan akan dikumandangkan.
Mohammad Arwani menambahkan, salah satu keturunan Kiai Ambiyak yang bernama Kiai Sholeh merupakan kiai masyhur. Dimana para menantunya merupakan pendiri sejumlah pondok pesantren besar di Kediri, seperti Pondok Lirboyo, Pondok Kedunglo, Pondok Jampes dan Pondok Batokan.
Dalam bulan ramadan tahun ini dengan diikuti jamaah dari berbagai daerah diseluruh Indonesia. Masjid Al-Alawy kembali mengadakan berbagai kegiata, seperti salat tarawih, pengajian kitab dan kegiatan lainnya. [nm/kun]






