RINGKASAN BERITA:
- Masjid Sayyidah Aisyah di Tan’im menjadi lokasi miqat terdekat dan favorit bagi jemaah haji Indonesia.
- Suhu ekstrem di Makkah mencapai 43 derajat Celsius dengan kelembapan rendah sebesar 16 persen.
- Jemaah diimbau membatasi umrah sunnah guna menjaga stamina menjelang puncak ibadah haji di Arafah.
- Lokasi Tan’im dipilih karena memiliki fasilitas lengkap dan jarak tempuh hanya 20 menit ke Masjidil Haram.
Makkah (beritajatim.com) – Masjid Sayyidah Aisyah di Tan’im merupakan lokasi miqat umrah sunnah terdekat dari pusat Kota Makkah yang paling diminati jemaah haji Indonesia karena hanya berjarak 7,5 kilometer atau sekitar 20 menit perjalanan dari Masjidil Haram.
Berada di batas Tanah Haram jalur perlintasan menuju Madinah, masjid ini menjadi titik awal keberangkatan jemaah yang hendak mengenakan kain ihram dan melafalkan niat umrah sebelum memasuki jantung kota suci.
Kondisi cuaca di sekitar masjid pada pertengahan Mei 2026 ini tergolong ekstrem. Angin dari barisan bukit batu berwarna kuning pucat membawa hawa panas yang menyengat kulit. Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, suhu di lokasi tersebut bahkan menembus angka 43 derajat Celsius.
“Ini jam tiga sore lho. Lihat, suhunya menembus 43 derajat Celsius dengan tingkat kelembaban hanya 16 persen,” ujar Hj. Erti Herlina, Kasi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja Makkah, sambil menunjukkan layar ponselnya di pelataran masjid, Kamis (14/5/2026).
Meskipun cuaca panas sangat menusuk, Masjid Sayyidah Aisyah tetap dipadati jemaah dari berbagai negara, termasuk rombongan jemaah haji asal Aceh Besar (Kloter 5 BTJ). Hj. Erti menjelaskan bahwa waktu setelah Ashar (sekitar pukul 15.36 WAS) merupakan saat terbaik bagi jemaah Indonesia untuk mengambil miqat umrah sunnah. Walaupun suhu masih tinggi, kondisi ini dinilai lebih ramah dan tidak sepadat waktu malam hari.
“Karena sehabis maghrib atau isya itu semakin ramai di sini,” katanya. Ia menambahkan bahwa pada malam hari, kepadatan jemaah dari mancanegara sering kali membuat jemaah lansia rentan terpisah dari rombongannya.
Masjid Tan’im menjadi pilihan utama karena fasilitasnya yang lengkap, termasuk kamar mandi yang memadai untuk berganti pakaian ihram dan mengambil wudhu. Luas bangunannya mencapai 6.000 meter persegi di atas lahan seluas 84 ribu meter persegi, yang mampu menampung ribuan jemaah secara bersamaan.
Sejarah Masjid Tan’im
Nama masjid ini diambil dari istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah binti Abu Bakar. Secara historis, pada saat Haji Wada’, Rasulullah SAW meminta saudara Aisyah, Abdurrahman, untuk mengantarkannya ke Tan’im guna mengambil miqat setelah suci dari haid. Peristiwa pada tahun 9 Hijriah itulah yang menjadi dasar syariat penggunaan Tan’im sebagai tempat miqat penduduk Makkah.
Namun, di balik tingginya antusiasme jemaah melaksanakan umrah sunnah, otoritas haji Indonesia memberikan peringatan penting. Mengingat puncak ibadah haji atau wukuf di Arafah tinggal menghitung pekan, jemaah diminta untuk lebih bijak dalam mengatur aktivitas fisik.
Hj. Erti mengimbau jemaah, khususnya jemaah lansia, untuk lebih memprioritaskan stamina dan kesehatan. “Jangan terlalu sering melaksanakan umrah sunnah. Stamina perlu dijaga untuk menghadapi puncak ibadah haji nanti,” tegasnya. Hal ini krusial mengingat tantangan suhu panas di Makkah dapat menguras energi jemaah dengan cepat sebelum fase inti haji dimulai. [ian/MCH]






