Mojokerto (beritajatim.com) – Mungkin tak banyak yang tahu, limbah bonggol jagung yang selama ini tak terpakai bisa dimanfaatkan untuk media budidaya jamur. Seperti yang dilakukan salah satu warga Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto ini.
Dengan memanfaatkan banyaknya limbah bonggol jagung yang ada di desanya, Zaenal Abidin (42) mulai mengembangkan budidaya jamur dengan media bonggol jagung sejak dua bulan lalu. Ini dilakukan lantaran untuk mengisi waktu menunggu panen padi yang ia tanam.
“Saya petani padi. Padi panennya tiga bulan sekali, saya berfikir menunggu waktu panen apa yang bisa saya lakukan yang menghasilkan. Kebetulan di desa kami juga banyak petani jagung sehingga banyak limbah bonggol jagung,” ungkapnya, Kamis (18/8/2022).
Limbah bonggol jagung selama ini tak dimanfaatkan bahkan, tak jarang dibuang ke sungai. Melihat potensi tersebut, bapak dua anak ini pun berfikir untuk budidaya jamur dengan media bonggol jagung. Ini dilakukan setelah ia membaca sejumlah buku dan mendapatkan inspirasi.
“Saya baca buku-buku, bagaimana tiga bulan ini dapat penghasilan sampingan yang baru. Akhirnya ketemu buku budidaya jamur dari janggel atau bonggol jagung. Setelah saya pelajari beberapa bulan, akhirnya saya eksperimen langsung,” katanya.
Ia membuat bedeng atau tempat untuk budidaya jamur yang terbuat dengan bambu berukuran 80 cm x 3 meter. Ukuran tersebut sesuai dengan yang ia pelajari dari buku tersebut. Ia memotong bonggol jagung tersebut dan menebar di bedeng dengan ketebalan 25 cm namun itu dirasa terlalu tebal.
“Caranya bagaimana? Saya setiap hari buat satu bedeng, satu bedeng sampai satu minggu jadi tujuh bedeng. Saya menggunakan metode berbeda untuk eksperimen sehingga nantinya ia bisa membuat komposisi yang pas. Akhirnya saya menemukan yang pas,” katanya.
Zaenal akhirnya menemukan ukuran standar dengan hasil maksimal yaitu bonggol jagung dicampur ragi satu pak yang harganya Rp8 ribu per pak, pupuk urea 1,5 kg dan bekatul 5 kg. Caranya, bonggol jagung ditabur ke bedeng terlebih dahulu dengan ketebalan 10 cm dan kemudian dtabur dengan campuran urea, ragi dan bekatul.
“Untuk bonggol jagung setiap bedengnya butuh 5 karung glangsing ukuran besar. Awalnya bonggol 2 karung ditabur dulu baru dicampur dengan campuran pupuk kemudian dilanjutkan taburan bonggol. Setelah bonggol kedua dicampur lagi pupuk dan terakhir bonggol lagi baru disiram air,” jelasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”mojokerto”]
Setelah disiram, lanjut Zaenal, bedeng ditutup dengan plastik dan menunggu 15 hari untuk panen. Setelah 15 hari, jamur sudah bisa dipanen namun hasilnya belum maksimal sehingga diperlukan perawatan. Yakni setiap pagi disemprot air dan setelah tiga hari diberikan nutrisi rajikannya sendiri.
“Sehari bisa panen 1,5 kg, panen terus setiap hari sampai 120 hari atau empat bulan. Setelah 120 hari, baru mengganti media bonggol jagungnya. Pemasarannya, kalau di sini saya jual ke mlinjo karena kebetulan warga sini juga banyak yang berdagang mlinjo. Saya kemas 1/4 kg, 1/2 kg,” tuturnya.
Dalam satu kemasan ia jual Rp5 ribu. Selain dititipkan ke pedagang mlinjo, ia juga menjual ke beberapa pasar di sekitar Desa Sumber Wuluh. Seperti Pasar Dawarblandong, Pasar Babatan Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan dan Pasar Kedamaian Kecamatan Kedamaian, Kabupaten Gresik.
“Saat ini, saya sudah punya 20 bedeng. Satu hari bisa panen 1 kg sampai 1,5 kg per bedeng kali Rp15 ribu jadi satu hari Rp300 ribu. Dalam satu bulan bisa Rp9 juta kali 4 bulan. Itu sampingan karena masih bekerja lagi lainnya. Di sini gratis semua untuk bonggol jagung karena jagung di sini banyak,” paparnya.
Zaenal menjelaskan, jika tempat tinggalnya merupakan desa pinggiran hutan sehingga musim semi banyak warga yang menanam jagung. Sehingga saat panen, bonggol jagung menjadi limbah sehingga ia manfaatkan untuk media budidaya jamur.
“Dengan metode bonggol jagung ini biayanya murah. Satu bedeng hanya butuh modal Rp50 ribu. Budidaya jamur dengan media bonggol jagung ini masih baru, saya baru dua bulan namun karena melihat hasilnya sehingga beberapa warga tertarik mengikuti apa yang saya lakukan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Sumber Wuluh, Kunardi S.sos menambahkan, untuk mendukung apa yang dilakukan warganya, ia juga mendatangkan teknisi jamur agar warga Desa Sumber Wuluh memiliki tambahan penghasilan. Sehingga sedikit demi sedikit bisa mengangkat perekonomian.
“Warga saya itu punya kelemahan, kalau belum dikasih contoh itu tidak mau. Dengan metode murah, bahan baku bonggol jagung yang biasanya mengotori kampung dan dibuang di sungai dimanfaatkan. Saat ini, ada 10 rumah tangga. Masih terus dilakukan pembinaan untuk meningkatkan hasil,” pungkasnya. [tin/ted]








