Jombang (beritajatim.com) – Namanya cukup singkat, Majda. Namun tidak dengan suaranya. Bocah berumur 13 tahun asal Jombang Jawa Timur ini suaranya panjang mendayu-dayu. Kadang tinggi, terkadang rendah. Sudah begitu sangat merdu. Maka tidak heran penampilan Majda saat melantunkan salawat Asghil dalam Resepsi Satu Abad NU di GOR Delta Sidoarjo, Selasa (7/2/2023) memukau jutaan pasang mata yang hadir.
Termasuk memukau Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta Ibu Negara Iriana Jokowi, Wapres Ma’ruf Amin beserta istri, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, serta pejabat yang hadir dalam acara itu. Majda melantunkan salawat Asghil bersama tiga bocah lainnya.
Yakni, Azzam Nur Mu’jizat, bocah asal Mojokerto, Sayed Hasan Syauqi Alaydrus, serta Yasmin Najma Falihah. Mereka melantunkan salawat Asghil secara bergantian diiringi komponis kenamaan Indonesia, Addie MS. Salawat Asghil ini dibawakan secara simfoni.
[berita-terkait number=”3″ tag=”satu-abad-nu”]
Selasa (7/2/2023) adalah hari yang tak bisa dilupakan bagi Majda. Dia berdiri tenang di atas panggung kehormatan. Mengenakan baju putih dipadu jilbab putih bermotif bunga. Pandangannya lurus ke depan. Majda kemudian melantunkan salawat Asghil. Suaranya mendayu-dayu, menorobos keheningan Stadion Delta Sidoarjo.
“Alhamdulillah, saya tidak grogi. Padahal latihan tidak sampai satu Minggu,” kata Majda ketika ditemui di rumahnya Ribath Muhajirin PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas Jombang, Rabu (9/2/2023).
Keturunan Pendiri NU

Majda adalah anak kedua dari tujuh bersaudara dari pasangan KH Abduurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq (45) dan Hj Nurhamidah (37). Dia lahir pada 3 Maret 2010. Saat ini bocah berparas ayu ini duduk di kelas VI MI (Madrasah Ibtidaiyah) Tambakberas.
Majda masih terhitung cicit keponakan dari pendiri NU (Nahdaltul Ulama) KH Abdul Wahab Chasbullah, dari garis ayah. Sedangkan dari ibunya, Majda masih keturunan pendiri Pondok Pesantren Langitan Tuban.
Soal suara emasnya, Majda belajar secara otodidak. Bahkan ketika hendak tampail dalam Resepsi Satu Abad NU di GOR Sidoarjo juga tidak ada persiapan khusus. Di lingkungan pesantren, Majda sering mendengar lantunan salawat. Hal itulah yang membuatnya akrab dengan salawat.
Adalah sang ibu, Hj Nurhamidah, yang mendorong Majda untuk mengikuti audisi salawat Asghil yang diadakan oleh panitia peringatan Satu Abad NU. Nurhamidah mendapatkan pengumuman itu. Dia kemudian meminta anaknya untuk ikut.
Panitia meminta rekaman video Majda melantunkan salawat. “Syaratnya, mengirim video salawat. Tanpa musik. Kemudian saya kirimkan ke panitia. Yang ikut sekitar 700 orang. Dari jumlah tersebut diambil empat anak. Alhamdulillah, anak saya masuk,” kata Nurhamidah berkisah.
Akhir Januari, empat bocah terbaik itu mendapat undangan ke Jakarta untuk brifing. Gus Rozaq dan sang istri mengantarnya, yakni ke studio komponis kenamaan Addie MS. Di tempat tersebut, Majda mendapatkan pengarahan secara khusus.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pesantren-jombang”]
“Sejak balita sudah akrab dengan salawat. Suaranya dari dulu merdu. Mungkin itu gen dari neneknya yang berasal dari pesantren Langitan Tuban. Pernah juga tampil salawatan di pondok Rejoso Peterongan Jombang sewaktu dia kecil,” kata Nurhamidah.
Minggu malam (5/2/2023), Gus Rozaq dan Nyai Nurhamidah mengantar Majda ke Sidoarjo untuk persiapan Resepsi Satu Abad NU. Majda dikarantina di sebuah hotel dekat GOR Delta. Detik-detika yang mendebarkan pun tiba.
Selasa pukul empat dini hari, Majda sudah berada di panggung utama. Dia hendak tampil di depan presiden dan massa yang memadati stadion. Gus Rozaq sempat ketar-ketir. Dia khawatir Majda ngambek. Karena menunggu hingga beberapa jam. Mulai subuh menunggu, Majda baru tampil sekitar pukul sembilan pagi.
“Karena menunggunya lama, saya khawatir Majda ngambek. Khawatir penampilannya tidak maksimal. Namun alhamdulilah, itu tidak terjadi. Majdi bisa tampil dengan sempurna. Ini moment berharga. Satu Abad NU. Tidak akan terulang lagi,” kata Gus Rozaq bangga.
Majda benar-benar menjadi kebanggan orangtua. Meski masih anak-anak, Majda memberikan kontribusi dalam Resepsi Satu Abad NU. Lantas apa-apa cita-cita Majda? “Saya ingin berbakti kepada orangtua, agama dan negara,” kata Majda polos. [suf]






