Jember (beritajatim.com) – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menegaskan, Indonesia akan membutuhkan pemimpin yang berjiwa santri pada 2045. Itulah kenapa ia menekankan pentingnya para santri untuk menyiapkan diri menjadi pemimpin Indonesia berjiwa merah-putih.
“Indonesia dulu lahir atas kerja sama pesantren, umat Islam, dengan kelompok-kelompok lain. Dengan suku-suku lain yang juga berbicara Indonesia,” kata Mahfud, dalam acara silaturahmi di Pondok Pesantren Al Falah yang diasuh KH Abdul Muqiet Arief, di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (24/9/2023) malam.
Mahfud mengingatkan, Indonesia adalah hasil kesepakatan para ulama bersama tokoh-tokoh pemimpin nasional yang punya wawasan kebangsaan. “Makanya wawasan kebangsaan merah putih harus dipegang,” katanya.
“Merah itu artinya berani. Tapi tidak cukup merah, karena orang berani tidak bersih, tidak jujur, itu berbahaya. Banyak orang berani, tapi bekat, berani karena salah. Kalau merah putih, berani karena benar,” kata Mahfud.
Mahfud meminta para santri membuat citra diri yang berani melawan kebatilan dan jujur dalam berperilaku. Saat ini pendidikan pesantren laris diminati banyak orang. “Orang-orang kota, para profesional, para pejabat sekarang berpikir menyekolahkan anaknya di pesantren, karena merasa lebih aman secara moral, dididik agama,” katanya.
Kaum santri saat ini tak lagi dianggap udik. “Milioner banyak yang dari pesantren. Yang jadi presiden dari pesantren: Gus Dur. Wakil Presiden Kiai Ma’ruf Amin dari pesantren. Jadi menteri banyak. Jadi hakim banyak,” kata Mahfud.
Mahfud mengingatkan, mencintai bangsa adalah bagian dari keimanan. “Anda membuang kerikil di tengah jalan itu adalah bagian dari iman. Apalagi mencintai tanah air,” katanya.
Para santri adalah bagian dari generasi yang akan mengisi Indonesia Emas pada 2045. “Indonesia Emas itu kira-kira sama dengan baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur. Negara yang aman makmur, thoyyibah. Negara yang baik dan mendapatkan ampunan dari Allah,” kata Mahfud.
“Saya punya optimisme, pada 2045 memerlukan pemimpin-pemimpin yang punya jiwa kepesantrenan. Pemerintah membuat program-program untuk memajukan pesantren sebagai bagian dari lembaga pendidikan yang mencetak kader bangsa, sehingga dibuat Undang-Undang Pesantren,” kata Mahfud.
Kultur pesantren juga mencegah alienasi atau keterasingan di dunia modern yang diakibatkan teknologi. “Jiwa kepesantrenan akan muncul, karena santri selalu diajari silaturahim,” kata Mahfud.
Indonesia diperkirakan akan menjadi negara terkuat keempat di dunia pada 2045. RRC adalah negara terkuat pertama, diikuti India dan Amerika Serikat. “Pada saat itu pendapatan per kapita kita sudah mencapai 30 ribu US dollar. Sekarang pendapatan per kapita di Indonesia baru 4.600 US dollar,” kata Mahfud.
“Seluruh kekayaan alam kita nanti akan diolah melalui proses hilirisasi. Jadi tidak dikirim mentah, tapi diproses oleh anak-anak bangsa,” kata Mahfud.
Kalkulasi kondisi Indonesia pada 2045, menurut Mahfud, sudah dibuat pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu Indonesia adalah negara ke-16 yang terkuat di dunia. “Nanti pada 2030, Indonesia akan menjadi kekuatan negara dunia ke-7, karena kita kaya raya. Orangnya banyak, orangnya pintar-pintar. Asal tidak dikorupsi. Kalau dikorupsi, tidak sampai,” kata Mahfud.
Mahfud mengingatkan, pemimpin-pemimpin Indonesia masa depan harus punya empati dan solidaritas. “Kebersatuan Indonesia menjadi kunci penting untuk menjaga keutuhan republik. Indonesia bukan hanya ada secara fisik, tapi juga harus punya jiwa: jiwa kebersatuan, jiwa kebersamaan,” katanya.
Pesantren mengajarkan santri untuk hidup penuh dengan toleransi. “Tidak ada pesantren yang mengajari orang benci kepada orang yang beda suku. Dalam agama kita dikatakan, perbedaan suku, agama, ras, adalah ciptaan Allah,” kata Mahfud. [wir]






