Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) merintis program bank sampah terintegrasi bagi warga RW 2 Kelurahan Kapasari, Surabaya. Upaya ini disiapkan untuk menciptakan sirkulasi ekonomi masyarakat.
Inovasi lingkungan itu hasil pengabdian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 1 Unusa. Mereka menggandeng CV Logis Nawi sebagai mitra pengepul untuk menyerap barang sisa hasil pemilahan warga setempat.
Rektor Unusa Prof Tri Yogi Yuwono, mengatakan program ini dirancang agar perguruan tinggi memberikan dampak nyata. Mahasiswa didorong membangun empati agar kelak peduli terhadap kondisi ekonomi masyarakat marginal.
“Saya menjadi senang ketika mahasiswa bisa berbaur dengan masyarakat, membangun empati, dan kepedulian. Ini baik sekali untuk pendidikan mereka,” ujar Tri Yogi, Selasa (11/8/2026).
Ia memastikan sistem pengelolaan limbah ini terus berlanjut. Transaksi jual beli material bekas pakai diharapkan memutar roda perekonomian pada tingkat akar rumput.
“Skenario manajemen bank sampah ini adalah wujud kepedulian kita terhadap lingkungan. Di sisi lain, ini bisa membantu ekonomi warga karena pasti ada transaksi yang dikembangkan,” jelasnya.
Senada, Wakil Rektor III Unusa, Prof Bambang Sektiari Lukiswanto, menjelaskan kehadiran mahasiswa membawa solusi lintas sektor. Mereka membantu pemeriksaan kesehatan hingga membuat katalog digital UMKM.
“Digitalisasi ini sudah menjadi praktik keseharian. Hal tersebut akan membantu memudahkan para pelaku usaha mengekspos produk mereka kepada khalayak luas,” ungkap Bambang.
Terkait fasilitas penampungan barang bekas, ia menyebut pendampingan akan terus berjalan. Barang sisa konsumsi rumah tangga yang terbuang dinilai memiliki daya jual tinggi jika dikelola secara tepat.
“Program ini harus berkelanjutan. Aktivitas membersihkan lingkungan dengan memisahkan sampah non-organik untuk diambil mitra akan memberikan peningkatan pendapatan bagi masyarakat,” urainya.
Sementara itu, Ketua Kelompok 1 KKN Unusa, Nur Fajril Arjuna Arif Billah, melihat tantangan besar di kawasan padat penduduk tersebut. Warga awalnya menganggap seluruh barang sisa rumah tangga hanya pantas dibuang.
“Dalam satu sisi ada beberapa sampah yang dapat bernilai jual dan bisa diolah kembali, seperti plastik yang bisa dihancurkan untuk produk baru,” jelasnya.
Skema kerja sama dengan pihak ketiga dinilai sangat praktis. Penduduk cukup memilah dan mengumpulkan material sisa, lalu mitra logistik akan mengangkut sekaligus membayarnya.
“Warga tinggal mengumpulkan, nanti CV Logis Nawi yang bertindak sebagai pengangkut dan pembeli. Uang yang dihasilkan itu bisa masuk ke kas RT,” bebernya.
Pihak swasta yang digandeng pun fokus pada edukasi pemilahan sampah perkotaan. Mereka rutin menyosialisasikan potensi finansial dari barang bekas kepada setiap rumah tangga.
Perusahaan logistik tersebut siap menampung hasil pilahan masyarakat secara berkala. Edukasi ditekankan pada pemahaman bahwa barang sisa bisa menjadi sumber pemasukan tambahan.
Sementara itu, respons positif datang dari Wakil Ketua RW 2, Nurul. Pendekatan para peserta KKN dinilai sangat ramah dan program mereka mudah diterima oleh penduduk sekitar.
“Banyak kegiatan yang dilakukan dan tentunya memberikan manfaat bagi masyarakat RW 2. Adik-adik sangat aktif dan mudah berbaur,” akunya.
Kunjungan pimpinan rektorat ke lokasi juga memberikan kesan tersendiri bagi warga. Kolaborasi antara akademisi dan penduduk diharapkan terus berjalan stabil di masa depan.
“Semoga pengalaman selama di lingkungan kami bisa menjadi kenangan yang baik. Kami berharap hubungan baik antara kampus dan warga tetap terjalin,” tandasnya. [ipl/beq]






