Banyuwangi (beritajatim.com) – Di Banyuwangi, beberapa kasus perundungan dan kekerasan sempat terjadi. Bahkan, kejadian mulai mengarah pada pelecehan seksual terutama pada pelajar.
Kondisi ini memantik perhatian pemerintah khususnya Pemda Banyuwangi. Menanggapi kenyataan tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mulai gencar melakukan langkah sosialisasi.
Bupati Ipuk turun langsung ke sekolah-sekolah menemui pelajar. Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus kembali mencuat. “Ayo siapa di sini yang suka membully?” tanya Ipuk kepada anak-anak saat berada di SMPN 1 Atap di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari.
Ipuk berpesan agar tak ada lagi kejadian serupa terulang di tempat tersebut. “Mulai sekarang, tidak boleh menghina temannya ya. Apapun itu. Tidak boleh menghina orangtua, tidak boleh menghina fisik, dan lain sebagainya,” lanjut Ipuk.
BACA JUGA:
Korban Perundungan Pasuruan Berhenti Sekolah, Kapolres Beri Bantuan
Tak hanya itu, Bupati Ipuk juga meminta agar pembinaan secara menyeluruh. Baik pelajar, guru hingga wali murid. “Kami telah mengajak pihak kepolisian, TNI, kejaksaan, dan para pihak lainnya untuk memerangi dosa pendidikan ini,” terang Ipuk.
Tak hanya itu, stakeholder terkait juga diajak terlibat untuk menangani. Termasuk lembaga sekolah wajib menjadi garda terdepan dalam pencegahan dan penindakannya. “Di sekolah-sekolah dan pesantren di Banyuwangi, kita siapkan pojok curhat. Ini wadah bagi anak-anak untuk menyampaikan problemnya,” ujar Ipuk.
Dari sini, lanjut Ipuk, diharapkan timbul keberanian bagi para pelajar yang mengalami permasalahan. Sistemnya agar memberikan keterbukaan, sehingga bisa diselesaikan dengan tindakan preventif dan penanganan.
BACA JUGA:
Kasus Perundungan Santri di Malang, Polisi Periksa 43 Terlapor
“Kami mendorong para guru tidak hanya menunggu. Tapi, harus peka terhadap kondisi murid. Jika ada yang tidak wajar, segera dekati. Berikan konseling dan problem solving,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Suratno menambahkan, upaya tersebut tidak hanya dengan Pojok Curhat. “Tapi, kami melengkapinya dengan Pekan Parenting. Dimana, kita menyatukan persepsi antara para guru dengan wali murid untuk bersama-sama memberikan pengasuhan kepada anak didik kita,” terang Suratno.
Suratno menambahkan, melalui kombinasi antara para guru di sekolah, orang tua di rumah dan seluruh kesadaran stakeholder di lingkungan, akan memberikan pengawasan yang lebih optimal untuk perlindungan anak. “Ini menjadi tanggungjawab bersama,” pungkas Suratno. [rin/suf]






